Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Koike Curi Spotlight Jelang Pemilu Jepang, Dukungan Abe Turun

Dukungan untuk Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe turun, hanya sekitar tiga pekan sebelum agenda pemilihan umum digelar.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 02 Oktober 2017  |  13:42 WIB
Pemilu Jepang - web
Pemilu Jepang - web

Kabar24.com, JAKARTA – Dukungan untuk Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe turun, hanya sekitar tiga pekan sebelum agenda pemilihan umum digelar.

Dalam jajak pendapat terbaru Kyodo News yang dirilis hari ini, Senin (2/10/2017), tingkat dukungan bagi Abe dikabarkan turun lebih rendah di bawah tingkat ketidaksetujuan terhadapnya.

Dilansir Bloomberg, Senin (2/10/2017), hampir 46% responden mengatakan bahwa sosok Abe tepat untuk menjadi Perdana Menteri untuk periode berikutnya. Menguntit posisi Abe adalah Gubernur Tokyo Yuriko Koike, dengan 33%, yang sebagian besar basis kekuatannya berada di dalam dan sekitar Tokyo.

Keberadaan Partai Harapan (Party of Hope) yang dipimpin Koike jelas mengancam posisi mayoritas di parlemen.

Sekitar 24% responden mengatakan akan memilih Partai Demokratik Liberal (Liberal Democratic Party) yang dipimpin Abe, sedangkan hampir 15% memilih Partai Harapan di bagian representasi proporsional pada pemilu yang akan berlangsung 22 Oktober.

Sementara itu, sekitar 43% responden mengatakan belum memutuskan akan memilih partai mana.

Meski Koike mungkin tidak akan bisa menggeser keunggulan Abe, popularitasnya yang cepat naik secara nasional menggoyang kesempatan partai yang dipimpin Abe, berikut partai lainnya, dalam pemilu tersebut.

Partai Harapan telah mengambil sikap oposisi terhadap Abe dalam dua isu utama. Partai ini akan berusaha menghapuskan program nuklir setahap demi, serta menyerukan kenaikan pajak penjualan lebih lanjut yang dibekukan.

Sebelumnya, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe dikabarkan akan mengadakan pemilihan umum pada 22 Oktober seiring dengan meningkatnya dukungan di tengah tensi dengan Korea Utara.

Menurut sumber terkait, Abe berupaya mengambil kesempatan dari pulihnya tingkat dukungan terhadap dirinya serta menghambat tantangan yang digalang partai oposisi baru melalui pemilu yang digelar lebih cepat ini.

Meningkatnya ketegangan dengan Korea Utara telah membantu memulihkan jumlah suara pemilih yang sebelumnya merosot akibat isu skandal, sekaligus dapat membantu Abe mempertahankan mayoritas dua pertiga kursi koalisinya di parlemen.

Media domestik melaporkan bahwa kampanye partai berkuasa, Partai Demokratik Liberal (LDP), akan berfokus pada komitmen untuk meningkatkan belanja pendidikan dengan menunda target untuk menahan defisit anggaran, serta rencana yang lebih terarah untuk merevisi konstitusi pasifis.

Dalam sebuah jajak pendapat yang dilakukan oleh surat kabar Mainichi pada Juli, dukungan untuk kabinet Abe merosot menjadi 26%, posisi terendah sejak dia menjabat sebagai Perdana Menteri pada tahun 2012.

Meski demikian, dukungan untuknya kian pulih di tengah meningkatnya ancaman uji coba rudal dan nuklir Korea Utara yang memanaskan ketegangan di Semenanjung Korea. Sementara itu, partai oposisi utama, Partai Demokratik, tampaknya memiliki pemasalahan dengan pengunduran diri beberapa anggotanya.

Jika partainya meraih suara terbesar, Abe dapat terus memimpin hingga tahun 2021 yang akan menjadikannya sebagai perdana menteri dengan masa kepemimpinan terpanjang dalam sejarah negeri sakura.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

shinzo abe
Editor : Fajar Sidik

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top