Theresa May Janji Perjuangkan Pasar Tungal UE

Perdana Menteri Inggris Theresa May menjanjikan untuk menetapkan rencana bertahan secara penuh di pasar tunggal Uni Eropa(UE) selama dua tahun setelah negara ITU resmi meninggalkan blok tersebut (Brexit) pada 2019.
Yustinus Andri DP | 24 September 2017 19:00 WIB
PM Inggris Theresa May - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA— Perdana Menteri Inggris Theresa May menjanjikan untuk menetapkan rencana bertahan secara penuh di pasar tunggal Uni Eropa(UE) selama dua tahun setelah negara ITU resmi meninggalkan blok tersebut (Brexit) pada 2019.

Hal itu menjadi salah satu upaya terbaru dari Inggris untuk meyakinkan para pebisnis di tengah terhentinya perundingan mengenai topik perdagangan dengan Uni Eropa di Brussels selama tiga putaran. Adapun janji May tersebut diungkapkannya saat berpidato di hadapan pebisnis dan diplomat Italia di Florence, Italia, Sabtu, 23 September.

“Jelas individu, pebisnis, dan perusahaan penyedia jasa publik seharusnya hanya merencanakan satu set perubahan hubungan antara Inggris dan Uni Eropa. Jadi selama periode implementasi Brexit, akses pasar akan bertahan seperti saat ini [pasar tunggal],” katanya, seperti dikutip dari Reuters, Minggu (24/9).

Meskipun Inggris terus bersikeras memperjuangkan akses pasar tunggal, UE nampaknya tidak akan mengabulkannya. Negosiator Brexit dari Uni Eropa Michael Barnier, sebelumya meminta agar Inggris lebih dahulu menyelesaikan segala macam administrasi untuk keluar dari blok tersebut.

Administrasi tersebut a.l. meliputi pembayaran biaya perceraian dengan UE senilai 60 miliar euro, hak-hak ekspatriat di kedua kawasan dan persoalan perbatasan dengan Irlandia Utara.

Namun demikian, Barnier yang juga hadir dalam pertemuan di Florence tersebut justru menujukkan sikap yang tidak sekeras sebelumnya. Kali ini dia memuji pidato May dengan semangat konstruktifnya tersbeut. Akan tetapi dia berharap agar Inggris memperhatikan detail permintaan tersebut agar dapat diterima oleh UE.

Adapun, di tengah upaya Inggris mempertahankan daya tarik ekonominya, Moody's Investors Service (Moody's) justru menurunkan peringkat utang jangka panjang Inggris dari Aa1 menjadi Aa2 pada Sabtu (23/9) waktu setempat.

Akan tetapi lembaga pemeringkat utang internasional tersebut juga merevisi naik outlook utang Inggris dari negatif menjadi stabil.

Moody's dalam rilisnya mengatakanm salah satu hal yang memengaruhi revisi peringkat utang tersebut lantaran sektor keuangan publik di Inggris terus melemah sejak mendapat peringkat Aa1.

Selain itu, konsolidasi fiskal pemerintah Inggris juga masih dipertanyakan dan beban utang yang terus meningkat.  Pada saat yang sama, Moody's juga menurunkan peringkat obligasi Bank Inggris menjadi Aa2 dengan prospek stabil.

"Setelah melihat pidato Theresa May, saya tidak berpikir ada sesuatu hal yang dapat membuat kami mengubah penilaian kami," Alastair Wilson, Direktur Operasional Risiko Sovereign Global Moody's. 

Tag : Brexit
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top