Tasuri, Selamatkan Owa Sokokembang Dengan Kopi Hutan

Petungkriyono memang mulai populer dijadikan jujugan wisata para kaum urban pencari pelesir. Kebanyakan dari mereka mengunjungi obyek-obyek melancong mainstream seperti curug bajing, curug muncar, welo river, curug bidadari, dan curug hanoman kendalisodo.
Wike Dita Herlinda | 16 April 2017 16:27 WIB
Owa Jawa (Hylobates moloch), terancam punah - mongabay.co.id

Bisnis.com, JAKARTA - Serombongan turis lokal dari Ibu Kota tampak asyik ber-selfie ria di tepi jalanan aspal yang membelah kawasan hutan lindung Sokokembang di Desa Kayupuring, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah.

Di pinggir jalanan itu mengalir anak sungai yang menyerupai air terjun mini yang tercurah dari ketinggian 600 dpl. “Kita langsung katrok lihat air terjun ala-ala begini. Habisnya di Jakarta enggak ada sih,” ujar salah satu peserta rombongan yang sedang heboh berfoto itu.

Petungkriyono memang mulai populer dijadikan jujugan wisata para kaum urban pencari pelesir. Kebanyakan dari mereka mengunjungi obyek-obyek melancong mainstream seperti curug bajing, curug muncar, welo river, curug bidadari, dan curug hanoman kendalisodo.

Namun, di sela-sela rapatnya barisan flora pencakar langit di hutan lindung Sokokembang itu, terselubung satu tempat yang kerap dilewati begitu saja oleh para pelancong lokal. Padahal, di tempat itu pengunjung akan dijamu kearifan lokal Sokokembang yang tiada duanya.

(Tasuri, penyelamat Owa Jawa dan Pelestari kopi hutan./Bisnis-Wike D. Herlinda)

Tempat itu adalah rumah sederhana milik Pak Tasuri. Letaknya memang sedikit nyempil dan tidak terlihat dari pinggir jalan. Akan tetapi, jika bertanya pada warga sekitar Sokokembang, semua pasti kenal siapa Tasuri.

Pria kelahiran 1968 itu adalah aktivis alam yang juga satu-satunya pengelola kopi hutan liar di Petungkriyono. Namanya termasyur di kalangan pecinta alam dan cendekiawan. Bahkan, tak jarang dia dicari oleh peneliti asing yang hendak melakukan riset di hutan Sokokembang.

Ibarat juru kunci, Tasuri tahu dan hafal betul seluk beluk hutan lindung Sokokembang; seperti apa habitat flora dan faunanya, berapa populasi satwanya, apa saja keanekaragaman hayatinya, dan sebagainya. Dia bagaikan kamus berjalan soal hutan tersebut.

(Tasuri, kopi, dan Owa Jawa/Bisnis-Wike D. Herlinda)

Tak disangka, dulunya tak terbesit di benak Tasuri untuk menjadi seorang laskar pelestari alam. “Saya sekolah sampai kelas 4 di SD Tinalun, karena sekolahnya dulu jauh sekali. Saya harus jalan kaki. Kalau mau sekolah, tidak pernah sarapan karena tidak ada yang dimakan.”

Jalan hidupnya berubah sejak dia digandeng Fakultas Kehutanan UGM untuk membantu aktivitas konservasi di Sokokembang. Dari sana, dia mulai melakukan penelitian soal owa jawa (javan gibbon) serta flora dan fauna endemik lain di hutan lindung tersebut.

Sokokembang adalah rumah terbesar kedua bagi owa jawa setelah Taman Nasional Gunung Halimun Salak di Jawa Barat. Populasi Owa Jawa di Sokokembang saat ini ada sekitar 50 keluarga. Setiap keluarga owa terdiri atas 3-5 ekor. Mereka hidup di areal hutan lindung Perum Perhutani seluas 5.000 hektare dan hutan rakyat seluas 1.000 hektare.

Banting Setir

Cukup lama berkecimpung di dunia konservasi alam, pada 2007 Tasuri mulai banting setir ke ranah perkopian. Pada saat itu, dia menyadari hutan Sokokembang banyak sekali ditumbuhi kopi hutan liar yang menjadi makanan alami bagi kawanan luwak dan surili liar.

“Tanaman kopi di hutan sini tumbuh liar sampai tinggi sekali. Banyak yang diameternya besar sampai seukuran satu pelukan. Banyak juga yang sampai dijalari anggrek hutan, sehingga sulit dikenali kalau itu tanaman kopi,” tutur bapak tiga anak itu.

Tasuri tertarik menekuni pengelolaan kopi hutan sebagai bentuk komitmennya melindungi hutan Sokokembang. Pasalnya, beberapa tahun terakhir Petungkriyono mulai populer sebagai destinasi wisata kopi di kalangan kaum urban, yang sekarang sedang gandrung kopi specialty.

Tingginya minat terhadap kopi Petungkriyono itu membuat warga desa sekitar banyak membuka lahan-lahan perkebunan rakyat demi kepentingan ekonomis. Dari situlah Tasuri ingin menyelamatkan hutan dan satwa Sokokembang melalui kopi.

“Saya ajak warga menggunakan kopi hutan dan tidak boleh membuka lahan lagi. Tingginya permintaan terhadap kopi Petungkriyono harus tetap dikontrol supaya para petani tidak nekat membobol hutan untuk membuka lahan dan merusak habitat Owa dan Macan Jawa,” tegasnya.

Saat ini, Tasuri telah sukses menggandeng 40 keluarga di Sokokembang untuk menjadi petani kopi hutan. Pada awalnya, proses produksi warga dilakukan ala kadarnya. Biji kopi hutan sekadar dituai lalu dijual ke Pasar Doro seharga Rp20.000/kg.

Namun, saat ini penjualan kopi hutan dikelola oleh Tasuri. Dia membeli hasil panen dari petani setempat seharga Rp35.000/kg. Syaratnya, hanya buah kopi (coffee cherry) yang sudah matang dan bewarna merah saja yang boleh dipetik dan dijual. Tidak ada lagi sistem ijon.

Kopi Eksotis

Saat ini, kopi hutan Sokokembang telah menjadi komoditas kopi premium eksotis yang sangat langka. Mengingat berasal dari tanaman kopi liar yang tumbuh di hutan, produksinya pun tidak bisa massal. Areal distribusinya juga sengaja dikerangkeng untuk menjamin kualitas.

“Distribusi kopi hutan ini sengaja saya batasi khusus di Petungkriyono supaya menjadi kopi premium eksklusif sekaligus menjadi magnet pariwisata khas daerah sini. Kualitas kopi hutan jelas lebih baik karena organik, tidak seperti kopi perkebunan. Lalu, karena diproduksi hanya dari buah kopi yang sudah matang, seduhan bubuk kopinya dijamin tidak bikin kembung.”

Dalam setahun, kata Tasuri, panen hanya dilakukan sekali pada kisaran Mei—Juni. Sekali panen, rata-rata kopi yang dihasilkan adalah 25 kuital. Jenis kopinya pun lengkap; ada kopi arabica, robusta, liberica, dan excelsa.

Karena produksi terbatas, bubuk kopi yang dihasilkan dijual hanya dalam kemasan poket 100gram dengan merek Kopi Owa. Harganya pun sangat terjangkau. Kopi arabica dibanderol senilai Rp20.000/100 gram, sedangkan kopi robusta Rp15.000/100 gram.

Harga kopi arabica dipatok lebih mahal, karena dibutuhkan jumlah buah kopi yang lebih banyak untuk menghasilkan 1 kg kopi bubuk. Perbandingan arabica adalah 1:8, sedangkan robusta 1:5. Selain itu, tanaman kopi arabica harus hidup pada ketinggian di atas 1.400 dpl, sedangkan robusta bisa hidup cukup di ketinggian 600 dpl.

Secara fisik, biji kopi hutan jauh lebih kecil ketimbang kopi perkebunan. Namun, saat ditimbang, massa kopi hutan lebih padat ketimbang kopi perkebunan. Tak hanya itu, kopi hutan menebar aroma yang lebih kuat karena hanya menggunakan ceri kopi merah.

(Kopi Owa, kopi premium simbol pelestarian alam dan kelestarian hutan./Bisnis-Wike D. Herlinda)

Pada saat bersamaan, Tasuri juga mengelola produksi kopi luwak hutan asli, bukan luwak penangkaran seperti yang banyak dijual di kota. Untuk varietas yang satu itu, produksinya sangat terbatas karena sifatnya yang langka. Harganya pun cukup mahal, yaitu Rp2,5 juta/kg.

Upaya Tasuri melestarikan hutan Sokokembang melalui pengelolaan kopi hutan rupanya tidak selalu berjalan mulus. Kerap ada oknum yang mencoba menjegal langkahnya. “Tidak semua orang suka konservasi. Banyak yang ingin buka lahan untuk bisnis kopi.”

Selain dihadang orang-orang sirik, Tasuri dihadapkan pada kendala permodalan untuk mengangkat pamor kopi eksotis dari Sokokembang itu. Dia membutuhkan uang untuk membeli alat roasting dan juga untuk membuka kedai kopi di Petungkriyono.

Beruntung, saat ini dia mendapatkan pinjaman lunak senilai Rp10 juta dari Koperasi Bangun Bersama (KBB) yang didirikan oleh PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. (TBIG). Pinjaman itu akan dipakainya untuk mendirikan rumah edukasi kopi untuk wisatawan.

(Tasuri: Semangat dan kesungguhan melestarikan alam/Bisnis-Wike D. Herlinda)

Mungkin, orang seperti Tasuri sudah semakin jarang ditemui. Semangat dan kesungguhannya untuk melestarikan alam lewat kopi di sekitar desa kelahirannya patut diacungi jempol. Sederhana saja; dia ingin para penerusnya kelak masih bisa melihat dan mendengar nyanyian merdu owa jawa dari depan serambi rumahnya seperti saat ini.

Tag : kopi
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top