UNDP: Indeks Pembangunan Manusia Indonesia Naik Pesat

Badan Program Pembangunan PBB (UNDP) mencatat indeks pembangunan manusia (IPM) yang diukur berdasarkan pendapatan per kapita, kesehatan, dan pendidikan di Indonesia meningkat pesat selama 25 tahun terakhir.
Newswire | 22 Maret 2017 17:29 WIB
Pelajar dari Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL) berswafoto bersama Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani (tengah) saat kunjungannya di SIKL, Kuala Lumpur, Malaysia, Senin (13/3). - Antara/Rafiuddin Abdul Rahman

Bisnis.com, JAKARTA - Badan Program Pembangunan PBB (UNDP) mencatat indeks pembangunan manusia (IPM) yang diukur berdasarkan pendapatan per kapita, kesehatan, dan pendidikan di Indonesia meningkat pesat selama 25 tahun terakhir.

"Dengan peringkat 113 dari 188 negara, Indonesia merupakan salah satu negara dengan peningkatan IPM terbaik di kawasan Asia Pasifik," kata Direktur UNDP Indonesia Christophe Bahuet dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (22/3/2017).

Majunya IPM Indonesia untuk laki-laki 0,712 dan perempuan 0,66 didorong oleh beberapa faktor yakni kenaikan pendapatan per kapita hingga 135,4 persen, peningkatan angka harapan hidup menjadi 5-8 tahun antara 1990-2015, serta bertambahnya rata-rata lama bersekolah hingga 4,6 tahun.

Meskipun IPM 2016 maju pesat, UNDP menyatakan bahwa capaian tersebut tidak menggambarkan situasi yang sebenarnya terjadi dalam masyarakat, yang biasanya jauh lebih kompleks.

Di Indonesia tercatat 140 juta penduduk hidup dengan biaya kurang dari Rp20 ribu per hari dan 19,4 juta penduduk menderita gizi buruk.

Sementara di bidang kesehatan, dua juta anak di bawah usia satu tahun belum menerima imunisasi lengkap serta angka kematian ibu tercatat 305 kematian per 100 ribu kelahiran hidup.

"Deprivasi lain juga terlihat dari akses ke layanan dasar di mana hampir lima juta anak tidak bersekolah dengan anak-anak di Papua memiliki tingkat 'drop out' tertinggi," kata Christophe.

Di setiap negara, termasuk Indonesia, ada kelompok-kelompok yang tertinggal dari kelompok lain yang disebabkan unsur multidimensi, salah satunya kesenjangan gender dan kurangnya pemberdayaan perempuan.

Menurut Penasihat Program Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) UNDP Indonesia Ansye Sopacua, pengabaian terhadap perempuan akan berakibat pada banyak risiko yang menurunkan IPM seperti rendahnya partisipasi sekolah, akses perawatan kesehatan tidak memadai, dan rendahnya partisipasi kerja.

Dengan indeks pembangunan gender 0,9 perempuan Indonesia yang menempuh pendidikan hingga sekolah menengah sebesar 42,9 persen dibandingkan laki-laki 51,7 persen. Angka partisipasi kerja perempuan sebesar 50,9 persen juga terpaut jauh dari laki-laki sebesar 83,9 persen.

"Kalau sudah setara, pembangunan gender akan menunjukkan indeks 1. Kesenjangan gender ini tidak hanya terjadi di negara-negara berkembang, tetapi negara seperti China pun indeks pembangunan gendernya belum 1," ungkap Ansye.

Agar pembangunan manusia menjangkau setiap penduduk, UNDP mengusulkan empat strategi di tingkat nasional dan daerah yakni kebijakan umum untuk menjangkau kelompok tertinggal, langkah-langkah spesifik untuk kelompok dengan kebutuhan khusus dalam hal ini perempuan.

Selanjutnya, memastikan ketahanan dalam pembangunan manusia dan memberdayakan kelompok tertinggal.

"Sebenarnya banyak di antara strategi tersebut yang sudah terefleksikan dalam Nawacita melalui kebijakan publik yang diterapkan pemerintah, tetapi implementasi kebijakan-kebijakan tersebut dari tingkat pusat hingga daerah masih harus ditingkatkan lagi," kata Ansye.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
undp, indeks pembangunan

Sumber : ANTARA
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top