Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

AIIB-IFC Kerjasama Hedging Kurs dan Tingkat Bunga

International Finance Corporation (IFC) dan Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) memperluas investasi proyek-proyek infrastruktur di Asia dengan menandatangani perjanjian International Swaps and Derivatives Association (ISDA).n
Ana Noviani
Ana Noviani - Bisnis.com 09 Februari 2017  |  20:27 WIB
Asian Infrastructure Investment Bank - presstv
Asian Infrastructure Investment Bank - presstv

Kabar24.com, JAKARTA--International Finance Corporation (IFC) dan Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) memperluas investasi proyek-proyek infrastruktur di Asia dengan menandatangani perjanjian International Swaps and Derivatives Association (ISDA).

ISDA merupakan perjanjian finansial yang merupakan kolaborasi yang menggambarkan inovasi untuk meningkatkan pendanaan pembangunan melalui pasar modal.

Melalui kerjasama tersebut, AIIB dan IFC dapat melakukan lindung nilai (hedging) tingkat bunga dan nilai tukar atas investasi yang digulirkan. Langkah tersebut berpotensi mengembangkan kapasitas pembiayaan AIIB dan IFC.

Sebelum AIIB, IFC telah menjalin kesepakatan serupa dengan African Development Bank, Asian Development Bank, dan European Bank for Reconstruction and Development.

Infrastruktur modern merupakan hal yang esensi menuju kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Tetapi, kebutuhan pendanaan untuk sektor infrastruktur di kawasan negara berkembang sangat besar dengan estimasi mencapai triliunan dolar dalam satu tahun.

"Kemitraan kami dengan AIIB memungkinkan kami untuk menawarkan pendanaan infrastruktur yang lebih efisien melalui instrumen pasar modal yang lebih luas," ujar Andrew Cross, IFC Deputy Treasurer Asia dalam keterangan resmi, Kamis (9/2).
 
Awal tahun ini, IFC meluncurkan program inovatif MCPP Infrastructure yang berpotensi menjaring dana sebesar US$6 miliar dari investor institusi global, seperti perusahaan asuransi. Dana tersebut dapat disalurkan untuk mendanai proyek-proyek modernisasi infrastruktur di negara berkembang dalam lima tahun ke depan.

Søren Elbech, Treasurer AIIB, mengatakan kesepakatan tersebut akan memfasilitasi kemampuan AIIB untuk mendorong proyek para klien dan mpromosikan surat utang berdenominasi mata uang lokal.

“Institusi keuangan multilateral seperti AIIB dan IFC memiliki risiko yang lebih luas terkait kapasitas dibandingkan dengan perusahaan swasta. Oleh karena itu, masuk akal apabila kami membuat solusi keuangan yang secara signifikan mengurangi risiko nilai tukar para debitur," paparnya.

Sejak awal 2016, AIIB telah menyetujui penyaluran pinjaman untuk sembilan proyek infrastruktur di tujuh negara dengan total nilai sebesar US$1,7 miliar. Pada 2017, lembaga yang bermarkas di Beijing, China itu akan fokus pada pengembangan konektivitas di Asia. Caranya, dengan memprioritaskan pendanaan untuk proyek di daerah perbatasan dan merancang solusi inovatif sebagai katalis investasi swasta.

Adapun IFC telah berinvestasi lebih dari US$4 miliar untuk proyek kelistrikan, transportasi dan proyek-proyek infrastruktur perkotaan sepanjang 2016. Termasuk dengan memobilisasi dana pihak ketiga.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

international finance corporation asian infrastructure investment bank
Editor : Rustam Agus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top