Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Korban Tewas Akibat Teroris di Negara OECD Naik 650%

Jumlah kematian akibat aksi terorisme di negara anggota OECD (Organisasi Kerja sama Dan Pengembangan Ekonomi) meningkat 650 persen pada tahun lalu meskipun jumlahnya turun secara global, menurut sebuah laporan, Rabu (16/11/2016).
Newswire
Newswire - Bisnis.com 16 November 2016  |  17:21 WIB
Foto yang diambil dari CCTV Bandara Zaventem, Brussels, menunjukkan tiga pria yang diduga pelaku serangan bom bunuh diri - Reuters
Foto yang diambil dari CCTV Bandara Zaventem, Brussels, menunjukkan tiga pria yang diduga pelaku serangan bom bunuh diri - Reuters

Bisnis.com, LONDON -  Jumlah kematian akibat aksi terorisme di negara anggota OECD (Organisasi Kerja sama Dan Pengembangan Ekonomi) meningkat 650%  pada tahun lalu meskipun jumlahnya turun secara global, demikian menurut sebuah laporan, Rabu (16/11/2016).

Jumlah korban secara global turun dikarenakan kelompok ISIS dan milisi Boko Haram mengalami kekalahan di tempat asal mereka namun melancarkan lebih banyak serangan di luar negeri.

Indeks Terorisme Global (GTI) mengatakan bahwa di seluruh dunia terdapat 29.376 korban tewas dikarenakan aksi terorisme pada 2015, turun 10% dan menjadi penurunan pertama dalam empat tahun, saat langkah melawan ISIS di Irak dan Boko Haram di Nigeria memangkas jumlah korban tewas sebesar sepertiga di negara itu.

Meskipun demikian, laporan itu mengatakan bahwa kelompok itu telah memperluas langkah mereka ke sejumlah negara dan wilayah sekitar, menyebabkan peningkatan tajam korban tewas di antara negara-negara anggota OECD, yang sebagian besar di antaranya merupakan negara kaya seperti Amerika Serikat dan negara-negara Eropa.

Laporan itu menyebutkan 21 dari 34 negara anggota OECD telah dilanda setidaknya satu kali serangan dengan sebagian besar korban tewas berada di Turki dan Prancis dimana terjadi serangan terencana yang dilancarkan oleh kelompok ISIS di gedung musik Bataclan, sebuah stadion sepak bola dan sejumlah kafe di Paris November lalu yang menewaskan 130 orang.

Denmark, Perancis, Jerman, Swedia dan Turki seluruhnya mengalami jumlah korban terburuk mereka dikarenakan terorisme dalam satu tahun sejak 2000, menurut indeks yang dikeluarkan oleh kelompok penasihat Institut Ekonomi dan Perdamaian (IEP).

Secara keseluruhan, 23 negara mencantumkan jumlah korban tertinggi akibat terorisme yang terjadi di negara mereka.

"Sementara di satu sisi menurunnya jumlah korban itu baik, terorisme yang terjadi terus-menerus di beberapa negara dan penyebarannya ke negara lain merupakan penyebab kekhawatiran serius dan menggarisbawahi keadaan terorisme modern," ujar Steve Killelea, kepala eksekutif IEP.

"Serangan yang terjadi di jantung demokrasi barat menggarisbawahi perlunya tanggapan yang cepat dan disesuaikan dengan perkembangan organisasi-organisasi itu".

Peringkat indeks tahunan negara-negara yang didasarkan oleh data dari Pusat Data Terorisme Global, dikelola oleh sebuah konsorsium dari Universitas Maryland AS.

Irak, Afghanistan, Nigeria, Pakistan dan Suriah, yang menjadi lokasi 72% korban tewas keseluruhan, menjadi lima negara teratas dalam daftar GTI. Amerika Serikat berada di peringkat 36, dengan Prancis di posisi 29, disusul oleh Rusia di peringkat 30 dan Inggris di posisi ke-34.

Dampak perekonomian global dikarenakan terorisme dinilai sekitar 89,6 miliar dolar AS dengan Irak yang mengalami dampak terbesar, yang terhitung sebesar 17% dari Produk Domestik Bruto (GDP) mereka.

ISIS merupakan kelompok yang paling mematikan apda 2015, laporan itu mengatakan, melampaui Boko Haram dengan melancarkan serangan di 252 kota yang menyebabkan 6.141 orang tewas.

Meskipun demikian, pergerakan Boko Haram ke sejumlah negara tetangga seperti Niger, Kamerun dan Chad menyebabkan kenaikan korban tewas di negara-negara itu sebesar 157%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

teroris oecd

Sumber : ANTARA/REUTERS

Editor : Martin Sihombing
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top