Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Data Ekonomi China Diproyeksi Stabil, Membuka Ruang Reformasi

Data Ekonomi China pada Oktober yang akan dirilis pekan depan menghadirkan tanda-tanda kestabilan, dan memberi ruang terjadinya reformasi.
Lavinda
Lavinda - Bisnis.com 03 November 2016  |  19:49 WIB
Data Ekonomi China Diproyeksi Stabil, Membuka Ruang Reformasi
Ekonomi China. - .Reuters
Bagikan

Kabar24.com, JAKARTA—Data Ekonomi China pada Oktober yang akan dirilis pekan depan menghadirkan tanda-tanda kestabilan, dan memberi ruang terjadinya reformasi.

 

Laporan data dari Negeri Tirau Bambu dalam beberapa pekan mendatang diperkirakan memperkuat pandangan bahwa ekonomi terbesar kedua di dunia itu stabil, meskipun ekspor terus melemah dan ada kekhawatiran gelembung properti memuncak.

 

Tanda-tanda ekspansi yang mapan diproyeksi memberi ruang bagi para pembuat kebijakan untuk berfokus pada reformasi dan pengendalian risiko. Hal itu berlangsung di tengah persoalan beban utang yang bertumpuk dan pertumbuhan kredit bahan bakar minyak yang tak efisien.

 

China telah melaporkan pertumbuhan ekonomi yang stabil pada kisaran 6,7% selama tiga kuartal terakhir, dan berpotensi akan mencapai target setahun penuh antara 6,5%-7%. Hal itu didorong belanja infrastruktur yang kuat, rekam jejak pinjaman bank, dan pasar properti yang memanas.

 

Namun demikian, pertumbuhan yang tak seimbang dan risiko utang memicu perdebatan internal atas timbulnya potensi penurunan target 2017. Penyebabnya, terutama karena permintaan global yang masih lemah dan perusahaan swasta enggan berinvestasi, membiarkan pertumbuhan bergantung pada belanja pemerintah dan perusahaan milik negara.

 

Wakil Menteri Keuangan Zhu Guangyao mengatakan, utang China berada di bawah kendali, tetapi tetap menghadapi tantangan. Hal itu dipicu pernyataan Dana Moneter Internasional (IMF) pada Agustus lalu, bahwa beban utang negara tak berkelanjutan.

 

Di sisi lain, Analis memperkirakan pembatasan properti baru akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi, meski tak langsung muncul pada Oktober.

 

 

"Kebijakan baru menyasar penjualan properti, sehingga dampak pada investasi perumahan akan membutuhkan waktu untuk terlihat,"ujar Ekonom Bank of Communications Liu Xuezhi di Shanghai seperti dikutip Reuters,Kamis(3/11/2016).

 

Dalam sebuah laporan, Ekonom Nomura mengemukakan, pasar properti yang dingin membebani investasi properti dan pada gilirannya akan membebani ekonomi riil, dalam beberapa bulan mendatang. "Kami menetapkan proyeksi pertumbuhan PDB riil pada level 6,4% YoY pada kuartal IV."

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

reformasi ekonomi china
Editor : Rustam Agus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top