DEMO 4 NOVEMBER: Ketua DPR Minta Intelijen Pertimbangkan masukan SBY

Ketua DPR Ade Komarudin menilai masukan SBY yang menyarankan kinerja intelijen harus akurat, patut dipertimbangkan sebagai koreksi sehingga ke depan kinerja intelijen lebih baik.
Newswire | 02 November 2016 13:17 WIB
Sejumlah anggota Brimob melakukan penjagaan di halaman kantor Balai Kota DKI Jakarta, Jakarta, Selasa (1/11). Sedikitnya 28 kompi atau sekitar 2.800 personel Brimob dari berbagai Polda disiapkan guna mengamankan aksi demonstrasi 4 November 2016 terkait dugaan penistaan agama. - Antara

Kabar24.com, JAKARTA - Kalangan intelijen diminta menjadikan kritik Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono sebagai masukan penting. 

Ketua DPR Ade Komarudin menilai masukan SBY yang menyarankan kinerja intelijen harus akurat, patut dipertimbangkan sebagai koreksi sehingga ke depan kinerja intelijen lebih baik.

"Beliau (SBY) berlatarbelakang tentara dan sangat paham intelijen. Itu masukan yang patut dipertimbangakan," kata Ade di Jakarta, Rabu (2/11/2016).

Ade mengatakan, pendapat SBY itu merupakan salah satu masukan yang bisa menjadi perhatian seluruh masyarakat.

Dia mengingatkan bahwa SBY memiliki pengalaman yang mumpuni dan pengabdiannya sudah teruji sehingga tidak masalah memberikan masukan kepada bangsa Indonesia.

"Jangan lupa beliau (SBY) Presiden RI dua periode, pernah menjadi Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Kepala Staf Terirorial, Ketua Fraksi ABRI di MPR. Artinya dia punya pengalaman yang banyak dan pengabdiannya teruji," ujarnya.

Sebelumnya, SBY menekankan kinerja intelijen harus akurat dalam menyikapi setiap situasi termasuk pertemuan politik. Intelijen tidak boleh menjadi "ngawur" dan main tuduh.

Menurut SBY, banyak seruan agar unjuk rasa boleh dilakukan asalkan tidak anarkis, dirinya mengaku setuju dengan seruan seperti itu karena unjuk rasa di era demokrasi adalah unjuk rasa damai dan tidak anarkis.

Dia mengatakan di era kepemimpinannya selama 10 tahun menjadi Presiden juga banyak unjuk rasa dilakukan, tetapi pemerintahan tidak jatuh, bahkan ekonomi tetap tumbuh dan pemerintah tetap bisa bekerja.

"Saya tidak alergi dengan unjuk rasa, saya telah buktikan selama 10 tahun," jelas dia.

Namun SBY menegaskan, di zamannya, intelijen tidak mudah melaporkan sesuatu yang tidak akurat. Dirinya sebagai pemimpin juga tidak mudah menuduh dan mencurigai adanya orang-orang besar yang mendanai unjuk rasa yang terjadi.

"Kalau dikaitkan situasi sekarang, jika ada analisis intelijen seperti itu (menuduh) saya kira berbahaya. Berbahaya menuduh seseorang atau kalangan atau partai politik melakukan seperti itu (mendanai unjuk rasa). Itu fitnah, i tell you fitnah lebih kejam dari pembunuhan dan sekaligus itu penghinaan," ucap SBY.

Dia mengingatkan bahkan peristiwa Arab Spring saja tidak ada yang mengomandoi, semua terjadi karena perkembangan teknologi dan viral media sosial.

Sumber : Antara

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top