Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Saat Lebaran, Banyak Orang Gila Dibuang di Surabaya

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini berharap agar pemudik yang kembali bekerja di Kota Pahlawan tak membawa sanak saudaranya.
JIBI
JIBI - Bisnis.com 07 Juli 2016  |  07:24 WIB
Saat Lebaran, Banyak Orang Gila Dibuang di Surabaya
depresi - pheonixrises
Bagikan

Kabar24.com, SURABAYA - Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini berharap agar pemudik yang kembali bekerja di Kota Pahlawan tak membawa sanak saudaranya.

Risma tak ingin Surabaya menjadi penuh sesak, sehingga tak bisa mencapai hasil maksimal dalam memenuhi kebutuhan warga kotanya.

"Saya berharap masyarakat yang kembali, tidak membawa saudaranya ke sini, karena Surabaya tidak nyaman lagi kalau terlalu banyak penghuninya," tutur dia usai melayani gelar griya (open house) di rumah dinasnya, Rabu (6/7/2016).

Selain magnet bagi pencari kerja, Surabaya juga menjadi sasaran keluarga tak bertanggung jawab untuk membuang anggota keluarganya yang mengalami psikotik alias gangguan kejiwaan. Bahkan, jumlahnya lebih banyak jika waktu Lebaran tiba.

"Orang gila itu banyak yang dibuang sama keluarganya," ujar Risma.

Setiap tahun pada hari kedua Lebaran, dia biasa menyempatkan diri mengunjungi Lingkungan Pondok Sosial (Liponsos) Surabaya di kawasan Keputih.

Dalam kurun waktu dua jam, ada empat sampai lima penderita gangguan jiwa yang terjaring patroli anak buahnya di jalan-jalan Surabaya. Rata-rata psikotik berusia lanjut itu dibuang oleh keluarganya.

Modusnya, keluarga sengaja meninggalkan mereka di pinggir jalan, puskesmas, masjid, bahkan restoran cepat saji. Karena linglung, petugas Satpol PP maupun Linmas membawanya ke Liponsos.

Setiba di sana, mereka lalu dirawat sampai sembuh. Setelah mampu berbicara dengan baik, biasanya barulah si kakek atau nenek mengaku bahwa sejatinya mereka dibuang oleh putra-putrinya.

"Saya pulangkan nggak mau, mungkin takut sama anaknya," kata Risma.

Yang miris, meski mereka telah dirawat sampai sembuh dan diantar secara cuma-cuma ke daerah asal, ada kerabatnya yang tetap menolak. Bahkan, mereka sengaja menutup pintu rumah, berlagak sedang tak ada di sana. Mau tak mau, petugas Liponsos yang mengantar si kakek membawanya kembali ke Surabaya.

Akibatnya kini, jumlah penghuni Liponsos membeludak. Risma menyebut sedikitnya ada 2.115 orang yang terdiri dari psikotik, gelandangan, maupun anak jalanan. Sedangkan sekitar 70 lansia ditempatkan di Griya Wredha. Sekitar 95 persen penghuni Liponsos bukan orang Surabaya, tapi dari luar kota bahkan luar pulau.

"Kalau semua dibuang ke Surabaya bagaimana? Masak saya tega mengeluarkan lagi setelah sembuh?" kata Risma.

Risma pun tak habis pikir atas perilaku keluarga yang melakukan pembuangan anggota keluarga tersebut. Menurutnya, itu tergolong perbuatan yang jahat.

"Sungguh keterlaluan, ini kejam dan durhaka betul!"

Perempuan peraih penghargaan Wali Kota Terbaik dunia versi World Mayor itu kini terus berupaya mencari solusi. Ia berharap pemerintah kabupaten dan kota tetangga mau diajak bersinergi.

 "Saya yakin kabupaten/kota lain punya anggaran untuk ngopeni mereka," ucapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

walikota surabaya tri rismaharini stress

Sumber : Tempo

Editor : Nancy Junita
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top