Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

DUGAAN KAMPANYE HITAM PEMILU AUSTRALIA, Hubungan Partai Koalisi dan Buruh Kian Memanas

Polisi Australia tengah menyelidiki potensi kampanye hitam dalam proses pemilu tahun ini. Pasalnya, ada pesan singkat yang menyebarkan isu kalau memilih parta koalisi liberal, maka pelayanan kesehatan akan diprivatisasi.
Surya Rianto
Surya Rianto - Bisnis.com 03 Juli 2016  |  17:57 WIB
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA -- Polisi Australia tengah menyelidiki potensi kampanye hitam dalam proses pemilu tahun ini. Pasalnya, ada pesan singkat  yang menyebarkan isu kalau memilih parta koalisi liberal, maka pelayanan kesehatan akan diprivatisasi.

Seperti dikutip Reuters pada Minggu (3/7), polisi Negeri Kangguru itu tengah mempertimbangkan untuk  melakukan penyelidikan lebih dalam atas kecurangan politik lewat penyebaran pesan singkat tersebut.

Malcolm Turnbull, Perdana Menteri Australia yang berasal dari partai koalisi liberal, menyebutkan pesan teks yang disebarkan dan menuduh partainya akan melakuakn privatisasi layanan kesehatan itu adalah tindakan kebohongan yang luar biasa.

"Ini adalah episode yang cukup  memalukan dalam sejarah politik Australia," ujarnya.

Di sisi lain, partai koalisi liberal itu mengarahkan tuduhan aksi itu dilakukan oleh pihak partai buruh. Pasalnya, partai oposisi itu kerap menjadikan prospek privatisasi layanan kesehatan mejadi kampanye serangan dalam pemilu kali ini.

Adapun, partai koalisi tengah tertekan karena suara mayoritasnya berpotensi migrasi ke partai buruh. Dalam survey menyebutkan partai koalisi mendapatkan 68 kursi di parlemen, sedangkan partai buruh 70 kursi, dan lima untuk partai independen dan partai hijau. Sisanya, tujuh kursi masih menjadi tanda tanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pemilu

Sumber : reuters

Editor : Mia Chitra Dinisari
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top