Pemilu Australia, Keresahan Brexit Jadi Senjata Turnbull

Peluang Malcolm Turnbull untuk merebut kursi perdana menteri Australia untuk periode kedua semakin besar dalam pemilihan umum Negeri Kangguru yang dimulai hari ini.
Surya Rianto | 02 Juli 2016 11:15 WIB
Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull - sbs.com.au

Bisnis.com, JAKARTA - Peluang Malcolm Turnbull untuk merebut kursi Perdana Menteri Australia untuk periode kedua semakin besar dalam pemilihan umum yang dimulai hari ini, Sabtu (2/7/2016).

Alasannya, rakyat Australia yang resah akan dampak keluarnya Inggris dari zona Euro selaras dengan kampanye Turnbull yang ini mestabilkan perekonomian.

"Tidak pernah ada waktu yang lebih menarik dari memilih untuk kestabilan, mayoritas koalisi pemerintah, dan renacana ekonomi yang stabil di masa depan," ujar Turnbull dalam kampanyenya seperti dilansir Reuters pada Sabtu (2/7).

Turnbull pun sedikit menyinggung kalau partai kecil tidak bisa dipercaya untuk mengelola ekonomi di tengah krisis pertambangan pertama di abad ini dan menyeimbangkan keuangan publik setelah bertahun-tahun defisit.

Sementara  itu, di Adelaide, Ibu Kota Australia Selatan, Xenophon Zipped, dari partai Independen Setris menyatakan pihaknya tidak akan memuluskan rencana pemerintah memotong pajak korporasi senilai 50 miliar dolar Australia atau setara US$37 miliar bila partainya memegang kekuasaan di senat.

"Mereka perlu memilah masa depan manufaktur negara ini dan puluhan ribu pekerja yang akan terpengaruh oleh hal itu," ujarnya.

Bill Shorten, pemimpin opsisi pun menyatakan pemotongan itu sangat parah dan mereka adalah adalah nyata.

Di sisi lain dari pihak kanan termasuk Pauline Hanson terus berkampanye anti  imigrasi, agenda anti-muslim. Dengan anti migrasi dan muslim, Hanson disebut salah satu kandidat yang bisa memenangkan posisi di senat.

Sumber : reuters

Tag : internasional
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top