Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Denmark Dukung Seni Budaya Indonesia

Kedutaan Besar Denmark di Indonesia bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Yayasan Kelola memperlihatkan dukungan kepada para seniman di luar Jawa untuk lebih produktif dalam berkarya.
Tisyrin Naufalty Tsani
Tisyrin Naufalty Tsani - Bisnis.com 25 Juni 2016  |  12:59 WIB
Denmark Dukung Seni Budaya Indonesia
Ilustrasi-Salah satu tarian di Festival Danau Sentani - kemenpar.jpg
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA—Kedutaan Besar Denmark di Indonesia bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Yayasan Kelola memperlihatkan dukungan kepada para seniman di luar Jawa untuk lebih produktif dalam berkarya.

Duta Besar Denmark untuk Indonesia Casper Klynge mengatakan seni dan budaya mampu memegang peran dalam berkontribusi meningkatkan toleransi dan membuka jalan dialog, semua menyatu untuk meraih perdamaian yang berkelanjutan di Indonesia.

"Indonesia memiliki kekayaan budaya yang begitu banyak,” katanya belum lama ini.

Dia mencontohkan beberapa peran penting seni dan budaya yang ada di Indonesia, misalnya pementasan wayang di Ampenan, Lombok, yang mampu menanamkan pesan bahwa perbedaan seharusnya menjadi sesuatu yang baik. Sementara di Bali, seni digunakan untuk menangkal konflik dari efek kegiatan turis modern pada praktik budaya kuno.

Di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara, kegiatan festival selalu digunakan sebagai alat untuk menyatukan komunitas setelah terpecah belah karena pilkada. Festival menjadi semacam ruang untuk dialog yang inklusif dan berkontribusi membangun tolerasi serta kepercayaan dalam masyarakat yang terpecah.

Melalui program bernama Hibah Cipta Perdamaian, Kedutaan Besar Denmark di Indonesia menyerahkan bantuan total Rp300 juta kepada sepuluh seniman atau kelompok seni di luar Jawa untuk mewujudkan proposal mereka menjadi kenyataan. Para seniman tersebut antara lain berasal dari Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Nusa Tenggara Timur.

Hibah Cipta Perdamaian merupakan bagian dari Program Kebudayaan Denmark di Indonesia. Program ini diluncurkan tahun lalu oleh Menteri Luar Negeri Denmark Kristian Jensen saat berkunjung ke Indonesia. Indonesia dan Denmark memutuskan mengembangkan kerjasama budaya secara bilateral, termasuk bidang seni dan budaya.

Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid mengatakan selama ini banyak ide cemerlang para seniman yang kandas begitu saja karena terkendala biaya.

Selain itu, biasanya dana hibah fokus disalurkan ke area Jawa atau Sumatera. Lain halnya dengan Hibah Cipta Perdamaian yang kali ini memberikan bantuan ke luar Jawa.

“Biasanya fokus Jawa atau Sumatera. Sekarang ke daerah yang lebih jauh,” katanya.

Menurutnya, pemberdayaan penggiat seni dan budaya dari luar Jawa merupakan langkah penting. Hal ini memungkinkan untuk menyoroti isu baru melalui seni dan budaya.

Sementara itu, Pimpinan Yayasan Kelola Amna Kusumo mengatakan hibah fokus disalurkan ke daerah-daerah yang memiliki potensi yang kuat di bidang seni budaya.

“Di banyak daerah, yang sangat berkembang adalah seni budaya yang sifatnya individual seperti karya sastra,” katanya.

Dengan adanya bantuan untuk mereka, lanjutnya, akan tercipta jejaring diantara mereka sendiri. Dengan begitu, mereka pun akan menjelma menjadi lebih kuat. Ke depannya, pemerintah pun akan mendukung mereka jika karyanya sudah terlihat.

“Mereka bukan orang terkenal tapi kalau tidak didukung kapan jadi terkenal?” katanya.

Salah seorang seniman yang mendapatkan bantuan yaitu Fatih Kudus Jaelani. Dia mengatakan akan menggunakan dana hibah untuk keperluan membuat buku antologi puisi dan pertunjukan teater.

Fatih adalah sarjana pendidikan bahasa dan sastra Indonesia yang lahir di Lombok Timur, 31 Agustus 1989. Beberapa karyanya dipublikasikan di berbagai media antara lain Kompas, Indo Pos, Seputar Indonesia, dan lain-lain.

Puisi-puisinya terbit dalam buku antologi puisi seperti Lampu Sudah Padam (KMRS, 2010) dan Sauk Seloko (PPN VI Jambi, 2012).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

denmark
Editor : Andhika Anggoro Wening
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top