Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Penculikan dan Pembunuhan Bocah SD: Polisi Belum Bisa Ungkap Motif Pelaku

Penyidik Kepolisian Resor Kota Depok belum bisa mengungkap motif pembunuhan bocah kelas I SD, Jamaludin, yang tewas disekap Januar Arifin alias Begeng.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 10 Februari 2016  |  06:43 WIB
Ilustrasi - Istimewa
Ilustrasi - Istimewa

Kabar24.com, DEPOK - Penyidik Kepolisian Resor Kota Depok belum bisa mengungkap motif pembunuhan bocah kelas I SD, Jamaludin, yang tewas disekap Januar Arifin alias Begeng, di rumahnya di Jalan Pondok Gede, Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, Minggu (7/2/2016).

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Depok Komisaris Teguh Nugroho mengatakan polisi kesulitan mengungkap motif tersangka karena keterangannya tidak konsisten. Hingga saat ini, keterangan tersangka masih berubah-ubah.

"Masih sulit karena tersangka seperti pemain watak," katanya, Selasa (9/2/2016).

Tersangka tertangkap karena telepon selulernya tertinggal di kios batu akik temannya bernama Afrizal Gilang Putra alias Daus. Awalnya, tersangka sempat menawarkan diri untuk mencari Jamaludin kepada kakaknya, Neneng Nur Hamidah, Sabtu siang, setelah Begeng menculik korbannya.

Selain itu, Begeng memanfaatkan temannya, Daus, dengan mengirimkan pesan pendek berisikan penculikan dari orang yang seakan-akan tidak dikenal dari telepon seluler miliknya.

"Jadi Begeng menggunakan nomor lain untuk mengirimkan SMS Daus, yang mengatakan Jamal diculik," ucapnya.

Tak sengaja, ponsel Begeng ketinggalan di kios Daus. Karena Begeng berniat membantu mencari Jamaludin yang hilang, akhirnya ponsel tersebut dibuka Daus. Saat dibuka, ada isi pesan SMS penculikan oleh Begeng. Di pesan SMS itu, Begeng diancam seseorang untuk menculik. Tapi, ia menggunakan nomor berbeda dengan ponselnya.

"Dia membuat skenario. Dia yang menculik dan ada orang yang mengancamnya. Padahal tidak ada," ucapnya. Setelah mengecek handphone tersangka, ditemukan contoh undangan pernikahan dia dengan calon istrinya. Akhirnya, polisi meminta calon istrinya menunjukkan rumah Begeng.

"Polisi ke rumah Begeng awalnya bukan untuk menangkap, hanya memintanya menjadi saksi," ujarnya. Polisi datang sekitar pukul 04.00, Minggu, ke rumah Begeng. Saat calon istrinya datang, bersama ketua RT, Daus, dan polisi, Begeng malah panik. Saat panik tersebut, dia diduga membunuh Jamaludin di dalam kamarnya.

"Kami sempat dobrak pintu karena tidak dibuka tersangka. Tapi akhirnya dibukakan dan Begeng ada di balik pintu," kata Teguh. Setelah ditanya soal keberadaan Jamaludin, tersangka masih tidak mengakuinya. Akhirnya polisi menggeledah rumah tersangka dan menemukan korban sudah terbujur kaku.

"Sudah tewas saat ditemukan. Tak ada tangisan yang didengar penyidik karena sudah terbujur kaku," ucapnya. Saat ditangkap, Begeng mengaku tidak tahu apa-apa. Dia mengaku ada dua orang yang datang.

"Semua sudah direncanakan. Tapi motifnya masih belum diketahui," ujarnya. "Pedofilia belum ada buktinya. Tunggu hasil otopsi."

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pembunuhan kekerasan anak predator anak

Sumber : Tempo.co

Editor : Andhina Wulandari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top