Delegasi RI dalam KTT Youth-20 Bawa Isu Ketenagakerjaan & Perbaikan Pendidikan

Perwakilan Indonesia dalam Konferensi Tingkat Tinggi Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Youth 20, atau Y20 Summit mengangkat isu-isu khusus pemuda, seperti ketenagakerjaan pemuda, pendidikan bagi pemuda, dan isu keamanan dan perdamaian yang berdampak pada pemuda untuk menjadi pembahasan bersama 94 pemuda delegasi dari negara-negara G20.
Yulianisa Sulistyoningrum
Yulianisa Sulistyoningrum - Bisnis.com 02 September 2015  |  15:43 WIB
Delegasi RI dalam KTT Youth-20 Bawa Isu Ketenagakerjaan & Perbaikan Pendidikan
Perwakilan Pemuda Korea Selatan akan memberikan bantuan di bidang pendidikan pada Kabupaten Bogor yang bekerja sama dengan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) - Bisnis.com/Miftahul Khoer
Bisnis.com, JAKARTA -- Perwakilan Indonesia dalam Konferensi Tingkat Tinggi Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Youth 20, atau Y20 Summit mengangkat isu-isu khusus pemuda, seperti ketenagakerjaan pemuda, pendidikan bagi pemuda, dan isu keamanan dan perdamaian yang berdampak pada pemuda untuk menjadi pembahasan bersama 94 pemuda delegasi dari negara-negara G20.
 
Dalam Y20 Summit yang digelar di Turki ini, para delegasi Indonesia mengangkat isu-isu yang belum pernah diangkat secara khusus sebelumnya.
 
Salah satu delegasi Indonesia, Biondi Sima, mahasiswa pogram double degree di SciencesPo Paris dan Universitas Peking Beijing, yang pada pertemuan ini membidangi Kebijakan Ekonomi Internasional dan Pembangunan Berkelanjutan menuturkan bahwa Indonesia menajamkan tujuan kunci yang dibawa untuk Y20 Summit, melingkupi upaya pengurangan kesenjangan pendidikan antara wilayah terpencil dan perkotaan, mendorong kualitas dan kesejahteraan tenaga pengajar, serta memastikan akses pasar dan mentorship untuk wirausaha muda.
 
Sebagian besar proposal Indonesia ini berhasil dikomunikasikan untuk mewadahi kepentingan negara berkembang lainnya. Indonesia juga mendapatkan dukungan positif dari wakil Y20 yang percaya bahwa G20 harus lebih meningkatkan perhatian pada isu-isu yang menghambat pembangunan di negara berkembang, tutur Biondi melalui keterangan tertulis yang diterima Bisnis.com, Jakarta, Rabu (2/9/2015).
 
Menurutnya, pemuda kini memiliki akses yang semakin meningkat terhadap pengambilan kebijakan di tingkat global. Pemuda tidak dapat lagi dianggap hanya sebagai pelengkap. Berbagai kebijakan sosio-ekonomi akan memengaruhi pemuda, dan hal ini menjadikan masukan pemuda sebagai aspek yang tidak dapat diacuhkan.
 
Untuk itu, katanya, dukungan pemerintah baik di tingkat nasional maupun lokal memungkinkan ide pemuda menjadi konstruktif dan relevan. Wadah bagi aspirasi pemuda harus dapat diinstitusionalisasikan agar pemuda mampu bersinergi menanggulangi permasalahan yang hadir di sekitarnya.
 
 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pemuda

Editor : Bastanul Siregar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top