Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Komodo Tertua di Kebun Binatang Surabaya Ditemukan Mati

Komodo Tertua di Kebun Binatang Surabaya Ditemukan Mati
Newswire
Newswire - Bisnis.com 26 Mei 2015  |  16:52 WIB

Kabar24.com, JAKARTA - Satu dari 80 Komodo koleksi Kebun Binatang Surabaya (KBS) ditemukan mati di kandang indukan pukul 07.30 WIB pada Minggu 24 Mei 2015. Komodo tertua (22 tahun) yang dinamai K-8 dengan nomor chip 0001435BB9 itu ditemukan mati oleh Suraji, pawang Komodo.

Komodo yang menempati kandang 1-A bersama dengan 4 pejantan dan 2 betina itu diduga mati karena faktor usia. Selain itu fungsi organ pada satwa tersebut juga tidak bekerja secara optimal.

Kepala Humas Perusahaan Daerah Taman Satwa KBS, Ryan Adi Djauhari menjelaskan, komodo tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda yang spesifik sebelum kematiannya. Setiap hari pola konsumsi komodo juga terlihat stabil. Hanya saja, tingkat agresifitas mulai menurun sejak beberapa hari sebelum kematiannya. “Sejak ditemukan mati itu kami langsung melakukan isolasi kandang. Mengambil sampel air, dan lain sebagainya, siapa tahu ada racun,” ujarnya kepada Tempo, Selasa 26 Mei 2015.

Untuk melihat penyebab spesifik kematian K-8, KBS memutuskan untuk melakukan otopsi. Dari hasil otopsi, dihasilkan visum yang menjelaskan bahwa K-8 mengalami pembengkakan pada jantungnya.

Pelaksana Tugas Sementara Kasi Klinik Karantina PDTS KBS, Drh. Ommy menambahkan bahwa pembengkakan jantung ini yang menyebabkan organ-organ lainnya tidak bekerja secara optimal. Metabolisme tubuh K-8 juga menjadi tidak berfungsi secara baik.

Pihak KBS pun mengaku baru mengetahui bahwa K-8 mengidap sakit pembengkakan jantung setelah hasil otopsi yang dilakukan pasca kematiannya. Alasannya, karena rekam medis yang dilakukan hanya bersifat berkala saja dan tidak memantau secara detail layaknya manusia.

“Reptil itu saat mengekspresikan ambang sakitnya di bawah mamalia,” ujarnya. Artinya daya tahan tubuh Komodo diakui lebih kuat dan tidak akan mengeluh sakit. Berbeda dengan mamalia semisal orang utan yang kerap sakit flu saat terjadi perubahan cuaca.

Ommy belum bisa menyimpulkan lebih jauh terkait kematian K-8 lantaran masih menunggu hasil laboratorium yang dikirimkan di Laboratorium Hewan Universitas Airlangga Surabaya. Kemungkinan satu bulan baru bisa diperoleh data lebih rincinya.

Pelaksana Tugas Sementara Direktur Utama Perusahaan Daerah Taman Satwa KBS, Aschta Nita Boestani Tajudin mengaku sangat terpukul atas kematian K-8. Ini karena Komodo tersebut, adalah Komodo tertua yang dimiliki KBS. “Kami tetap berkomitmen untuk terus meningkatkan kesehjateraan satwa koleksi PDTS KBS,” tutur Aschta lewat siaran persnya.

Aschta menjelaskan, reptil dengan nama latin varanus komodoensis ini dimiliki KBS sejak tahun 2000. Waktu itu KBS menerima 11 Komodo dari Flores yang kemudian digunakan sebagai generasi parenting (F-0). Saat itu K-8 masih berusia 7 tahun dan memiliki tanda cacat berupa ekor buntung. Sehingga secara reproduksi tidak dapat berfungsi. Saat ini koleksi Komodo KBS berkurang menjadi 79 ekor dari total sebelumnya 80 ekor. Sebelumnya, dua ekor komodo juga juga mati.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

komodo

Sumber : Tempo.co

Editor : Andhika Anggoro Wening

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top