Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

BERAS SINTETIS: Akui Saja, Pemerintah Kecolongan

Ketua Komisi IV DPR dari Fraksi Partai Gerindra, Edy Prabowo mengatakan pemerintah tidak perlu malu mengaku telah kecolongan dengan beredarnya beras sintetis ditengah masyarakat yang membuat berbagai kalangan merasa resah dan prihatin.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 22 Mei 2015  |  13:35 WIB
BERAS SINTETIS: Akui Saja, Pemerintah Kecolongan
Pedagang beras - Antara
Bagikan

Kabar24.com, JAKARTA--Ketua Komisi IV DPR dari Fraksi Partai Gerindra, Edy Prabowo, mengatakan pemerintah tidak perlu malu mengakui telah kecolongan dengan beredarnya beras sintetis di tengah masyarakat yang membuat berbagai kalangan merasa resah dan prihatin.

"Kalau ada hal yang terjadi seperti ini, saya pikir ini negatif. Ini barang yang gak boleh diperdagangkan, dan kita jangan malu mengakui bahwa kita kecolongan," ujarnya di Jakarta, Jumat (22/5/2015).

Menurutnya, beras merupakan konsumsi pokok masyarakat, sehingga tak boleh telah terkontaminasi berbagai macam zat yang sangat membahayakan bagi kesehatan. Untuk itu, kata dia, pemerintah harus mengecek kembali setiap produk yang ada di sektor pertanian.

"Kami meminta jenis-jenis produk yang dihasilkan pertanian ini dicek ulang. Kita tidak usah menuduh negara orang lain, seharusnya kita introspeksi, jangan-jangan ini permainan saja, " ujarnya.

Dikatakan, Dewan mendorong pemerintaha agar serius memperhatikan kasus beras sintetis atau beras palsu, dan harus tegas terhadap pelakunya.

Terkait isu bahwa adanya impor beras dari China, Edy mengatakan bahwa sampai saat ini belum ada rencana pemerintah impor beras dari negara itu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

dpr impor beras beras sintetis
Editor : Nancy Junita
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top