Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

BI Jatim Optimistis Ekonomi Surabaya Bakal Tetap Stabil

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur meyakini aktivitas perekonomian di Surabaya pada triwulan pertama tahun ini cukup stabil, kendati terdapat sejumlah perlambatan.nn
Wike Dita Herlinda
Wike Dita Herlinda - Bisnis.com 30 April 2015  |  20:47 WIB
Bank Indonesia - Jibiphoto
Bank Indonesia - Jibiphoto

Kabar24.com, SURABAYA – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur meyakini aktivitas perekonomian di Surabaya pada triwulan pertama tahun ini cukup stabil, kendati terdapat sejumlah perlambatan.

Deputi Kepala Perwakilan BI Jatim Syarifuddin Basara menjelaskan penjualan kelompok suku cadang serta barang budaya dan rekreasi di Surabaya pada Maret masih menunjukkan kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya.

“Penjualan barang budaya dan rekreasi juga diprediksi masih terus meningkat, mengingat penjualan alat tulis diyakini bertambah menjelang pelaksanaan Ujian Nasional (UN) pada April 2015,” paparnya dalam keterangan resmi, Kamis (30/4/2015).

Namun, sambungnya, persepsi masyarakat sudah mulai menunjukkan sikap pesimistis terhadap aktivitas konsumsi pada April 2015, terlihat dari rendahnya Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Surabaya pada bulan berjalan.

Walau demikian, BI Jatim menilai masyarakat usia muda dan berpendidikan setingkat pascasarjana masih memperlihatkan sikap optimistis terhadap kegiatan konsumsi pada April, ditambah dengan ekspektasi kegiatan konsumsi pada Mei yang juga masih menunjukkan optimisme.

Berdasarkan Survei Penjualan Eceran (SPE) Bank Indonesia, konsumsi rumah tangga menunjukkan penurunan didorong oleh lemahnya permintaan terutama pada kelompok barang perlengkapan rumah tangga serta makanan, minuman dan tembakau.

“Pelemahan permintaan terindikasi disebabkan oleh kebijakan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak,” kata Syarifuddin.

Di sisi lain, sambungnya, kenaikan harga BBM masih belum berpengaruh signifikan terhadap konsumsi BBM di masyarakat melihat penjualan BBM masih dalam batas normal dan diyakini meningkat pada April 2015 mengingat adanya perayaan Paskah pada bulan tersebut.

SPE juga mencatatkan peningkatan optimisme terhadap kenaikan harga pada periode 3 bulan mendatang. Permintaan diprediksi akan meningkat cukup signifikan menjelang bulan Ramadhan dan hari raya Lebaran.

Sementara itu, tekanan terhadap kenaikan harga pada 6 bulan yang akan datang diperkirakan menurun yang merupakan pola siklus ekonomi paska Lebaran, di mana tingkat harga biasanya mengalami penurunan.

“Untuk ekspektasi total penjualan pada periode 3 bulan dan 6 bulan yang akan datang, diprediksi tetap akan meningkat, walaupun pada level yang lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya,” jelasnya.

Syarifuddin menambahkan peningkatan ekspektasi terhadap kenaikan harga juga ditunjukkan pada Survei Konsumen (SK) baik pada periode 3 bulan maupun 6 bulan yang akan datang.

Dari sisi konsumen, peningkatan ekspektasi harga bersumber dari efek penyesuaian harga BBM, Tarif Tenaga Listrik (TTL), elpiji dan tarif kereta api. Faktor pendukung tekanan pada perubahan harga tersebut adalah penguatan mata uang dolar AS terhadap mata uang dunia dan penurunan subsidi dari pemerintah.

“Selain itu, SK menunjukkan penurunan IKK ditunjukan oleh menurunnya 2 indikator pembentuknya yaitu Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK).”

IEK, kata Syarifuddin, turun didorong oleh penurunan terhadap ekspektasi kondisi ekonomi dan ketersediaan tenaga kerja pada 6 bulan mendatang.

Walaupun demikian, ekspektasi peningkatan penghasilan pada 6 bulan mendatang masih menunjukkan sikap optimis.

Kondisi tersebut juga tidak berbeda pada IKE, di mana indikator penghasilan saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu menjadi merupakan satu-satunya indikator yang masih menunjukkan sikap optimistis.

Dari sisi penggunaan penghasilan pada rumah tangga, SK menunjukkan adanya peningkatan penghasilan untuk porsi konsumsi, sedangkan porsi pembayaran cicilan utang dan tabungan menurun.

Sekalipun demikian, BI Jatim meyakini rata-rata pendapatan rumah tangga masih berada pada posisi aman dan masih tersisa dana untuk ditabung.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jawa timur
Editor : Saeno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top