Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Hardy Pramono, Etika Jurnalistik dan Setoran Rp60 triliun

President & General Manager Total E&P Indonesie Hardy Pramono selalu tampil low profile. Namun untuk menggenjot kinerja ia tak mau tanggung-tanggung. "Kami telah menyumbangkan Rp60 triliun kepada negara Indonesia dan berkomitmen terus mengembangkan produk terbaik," katanya.
Lahyanto Nadie
Lahyanto Nadie - Bisnis.com 21 April 2015  |  16:36 WIB
 Foto Inset: Hardy Pramono, President Total E&P Indonesia
Foto Inset: Hardy Pramono, President Total E&P Indonesia

Bisnis.com, JAKARTA - President & General Manager Total E&P Indonesie Hardy Pramono selalu tampil low profile. Namun untuk menggenjot kinerja ia tak mau tanggung-tanggung. "Kami telah menyumbangkan Rp60 triliun kepada negara Indonesia dan berkomitmen terus mengembangkan produk terbaik," katanya.

'Pekerjaan rumah' yang paling anyar adalah target produksi gas pada South Mahakam Project Phase 3 (SMK 3) yang harus mencapai 80 juta kaki kubik per hari (million metrick standart cubic feet per day/MMscfd). Platform yang telah dibangun di lapangan gas SMK 3 ini didesain untuk dapat mengelola eksploitasi gas lebih dari target.

Ia juga berkomitmen terus menciptakan inovasi untuk energi yang lebih baik sesuai dengan mottonya: Committed to better energy.

Dalam perbincangan dengan Bisnis.com, Hardy yang sebelumnya menjabat sebagai Executive Vice President East Kalimantan District& Operation, ini menaruh perhatian penuh terhadap etika jurnalistik. Total bersama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) meluncurkan buku Etika Jurnalisme Migas, Panduan untuk Wartawan karya Agus Sudibyo hari ini (Selasa, 21 April 2015).

Ia berharap buku yang diterbitkannya bisa sebagai navigasi bagi para wartawan dalam menulis berita seputar migas. "Ini bukan yang terakhir, saya berharap akan muncul buku lain yang lebih baik dan bermanfaat bagi publik."

Ketua Dewan Pers Bagir Manan menyambut baik gagasan Hardy. Bagi Bagir, upaya Total E&P Indonesie itu bisa meningkatkan kualitas berita yang mendidik publik, namun tetap bersikap kritis. Sebab, katanya, persoalan migas menyangkut dampak sosial politik yang sangat besar.

Hadir juga dalam acara tersebut Kepala Humas SKK Migas Rudianto Rimbono dan Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat Ilham Bintang dan sejumlah wartawan senior a.l. CEO dan Pemimpin Umum Sinar Harapan Daud Sinjal dan VP HR, Communications and General Services Arividya Novianto.

Persoalan etika menjadi topik hangat dalam perbincangan itu. Apa lagi Ilham Bintang mengungkapkan sebanyak 80% wartawan Indonesia tidak membaca kode etik jurnalistik. "Makanya banyak berita karangan, informasi bohong, mencampuradukkan fakta dan opini."

Hardy hanya tersenyum kecil ketika disindir Bagir sebagai profesional yang tidak perlu lagi bersusah-susah belajar seperti halnya wartawan. Wartawan, kata Bagir, umumnya sarjana dari berbagai jurusan sehingga harus belajar lagi tentang jurnalistik.

Berbeda dengan Hardy, yang jebolan Teknik Fisika ITB, langsung bergelut di sektor migas. Betul, pria Jawa ini memang memulai karir di Total sebagai Junior Rotating Machinery. Kemudian, dipercaya sebagai Site Manager BSP Processing Terminal di Senipah. Ia juga pernah ditempatkan di lapangan produksi Total di Tierra Del Fuego District, Argentina, hingga mengukir sejarah baru sebagai anak bangsa pertama yang menjadi pemimpin puncak Total E&P Indonesie.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

total e&p indonesia
Editor : Lahyanto Nadie

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top