Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

ANALISIS POLITIK: Memahami Pesan Pidato Megawati (1)

Megawati Soekarnoputri menyampaikan satu pidato yang jarang di pembukaan kongres PDI Perjuangan di Bali hari ini, Kamis (9/4). Apa gerangan pesan yang hendak disampaikannya?
Bastanul Siregar
Bastanul Siregar - Bisnis.com 09 April 2015  |  22:00 WIB
Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menyampaikan sambutan pada acara ramah tamah Kongres IV PDI Perjuangan di Hotel Inna Grand Bali Beach, Bali, Rabu (8/4). Kongres PDI Perjuangan dengan salah satu agenda pokok menetapkan Megawati Soekarnoputri sebagai Ketua Umum PDI Perjuangan periode 2015-2020 akan berlangsung 8-12 April 2015.  - ANTARA
Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menyampaikan sambutan pada acara ramah tamah Kongres IV PDI Perjuangan di Hotel Inna Grand Bali Beach, Bali, Rabu (8/4). Kongres PDI Perjuangan dengan salah satu agenda pokok menetapkan Megawati Soekarnoputri sebagai Ketua Umum PDI Perjuangan periode 2015-2020 akan berlangsung 8-12 April 2015. - ANTARA

Megawati Soekarnoputri menyampaikan satu pidato yang jarang di pembukaan kongres PDI Perjuangan di Bali, Kamis (9/4). Di podium, dia tak lagi tampil sebagai seorang ibu rumah tangga, seperti terlihat beberapa kali dalam pidatonya terdahulu. Apa gerangan pesan yang hendak disampaikannya?

Sebelum masuk terlalu jauh, agaknya perlu terlebih dahulu dipahami beberapa konteks yang relevan yang menyertai momentum penyampaian pidato tersebut. Beberapa konteks ini akan membantu menjelaskan makna dari beberapa penekanan yang disampaikan ketua umum partai pemenang Pemilu 2014 itu.

Pertama, Megawati kini adalah politisi yang lebih matang, yang tahu bagaimana caranya memainkan mood dan sentimen publik, seperti sudah terlihat sejak akhir 2013, saat berhasil mengelola dengan baik pencalonan Joko Widodo sebagai calon presiden yang didorong PDI Perjuangan.

Kedua, ada risiko konflik yang laten antara pendukung moderat Jokowi dan pendukung tradisional Mega di PDI Perjuangan. Pada beberapa titik, konflik tersebut bahkan telah meletus, ditandai dengan tampilnya Fraksi PDI Perjuangan di DPR sebagai oposan untuk beberapa kebijakan, alih-alih sebagai the ruling party.

Ketiga, tengah berubahnya tatanan perpolitikan nasional, ditandai oleh merebaknya konflik internal di sejumlah partai, serta mulai melunaknya lawan-lawan politik koalisi bentukan PDI Perjuangan, yang juga didorong oleh manuver politik Jokowi beberapa waktu lalu, dengan menemui sejumlah tokoh oposisi.

Keempat, sikap Jokowi yang pasrah dan tak melakukan gerakan apapun, baik untuk menempatkan orang-orangnya di posisi strategis partai, maupun untuk menyerang kelompok yang menjadi lawan potensialnya di internal partai, dalam hal ini para pendukung tradisional Puan Maharani.

Kelima, situasi perekonomian yang tak kunjung pulih, yang secara efektif telah turut menggerus popularitas Jokowi dan juga PDIP sebagai partai pengusungnya. Situasi ini bisa menjadi bumerang bagi PDI Perjuangan, yang hanya dalam hitungan bulan sudah harus bertempur di 272 pilkada serentak gelombang pertama.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Kongres PDIP
Editor : Bastanul Siregar

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top