Jumlah Lansia Jepang Meninggal Dicuekin Keluarganya Terus Meningkat

Kematian seperti ini menjadi semakin umum terjadi di Jepang ketika jumlah orang berusia tua semakin meningkat dan mereka tidak lagi mendapat perhatian dari anggota keluarganya.
Newswire | 02 April 2015 11:21 WIB
Lansia Jepang/japantimes - yus

Kabar24.com, JAKARTA - Sebulan menghilang, tak seorang pun dari penghuni apartemen itu mencari tahu keberadaannya. Setelah bau menyengat menelusup ke hidung mereka, baru kecurigaan muncul.

Ternyata pria yang lama tak muncul itu, telah menjadi mayat di lantai apartemennya di pusat kota Tokyo, Jepang.

Tidak ada yang mencurigakan. Pria usia 80 tahun itu membayar sewa apartemen tepat waktu. Cuma tak satupun anggota keluarga menjenguknya bahkan pada saat ia meninggal.

Hanya pengelola apartemen Yoshie Fukuhara (77) yang meletakkan bunga di tempat jasad pria tua itu ditemukan dan kemudian memanjatkan doa untuknya.

Kemudian Yoshie menyerahkan proses pembersihan apartemen dan pemakamannya kepada Hirotsugu Masuda dan para pekerjannya.

Kematian seperti ini menjadi semakin umum terjadi di Jepang ketika jumlah orang berusia tua semakin meningkat dan mereka tidak lagi mendapat perhatian dari anggota keluarganya.

Saat ini populasi warga Jepang 127 juta jiwa. Setiap empat orang , satu di antaranya berusia lebih dari 65 tahun. Orang-orang tua ini terisolasi hidupnya hingga ajal menjemput mereka. Kematian orang-orang lanjut usia ini disebut sebagai meninggal dalam sepi.

"Hal ini mulai semakin umum di dunia dan pekerjaan ini menjadi semakin dikenal," kata Masuda.

Satu lembaga swadaya masyarakat yang bekerja di isu ini memperkirakan jumlah kasus orang meninggal dalam sepi akan semakin meningkat di Jepang.

"Sepertinya 40 ribu kasus seperti ini terjadi dalam 10 tahun ini. Jumlah ini sepertinya akan bertambah menjadi lebih dari 100 ribu kasus," kata Hideto Kone, seorang staf di satu lembaga swadaya masyarakat.

Sementara kehadiran Masuda dan para pekerjanya telah membantu para pengelola apartemen untuk proses pembersihan apartemen hingga pemakaman orang-orang tua itu.

Masuda menerima upah berkisar dari US$ 676 setara dengan Rp 8,8 juta hingga US$ 2.845 atau setara Rp 30 juta. Upah ini berdasarkan luas apartemen orang yang meninggal.

Menutup kerjanya, Masuda berdoa dan meletakkan bunga di tempat jasad orang tua itu ditemukan. Untuk kemudian jasad orang yang meninggal dalam sepi itu dimakamkan di tempat pemakaman orang tidak dikenal.

















Sumber : Tempo.co

Tag : jepang, lansia
Editor : Yusran Yunus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top