Serial Kisah Wartawati Kekasih Online ISIS

Para pakar terorisme Barat mengatakan pola rekrutmen Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) adalah lain dari yang sudah-sudah, sedangkan Aljazeera pernah menulis beberapa silam bahwa ISIS membutuhkan banyak keahlian dari seluruh dunia, termasuk kaum perempuan, untuk mengelola tatanan yang mereka sebuat "khilafah" itu.
Redaksi | 17 Maret 2015 17:59 WIB
ISIS - dw.de

Bisnis.com, JAKARTA - Para pakar terorisme Barat mengatakan pola rekrutmen Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) adalah lain dari yang sudah-sudah, sedangkan Aljazeera pernah menulis beberapa silam bahwa ISIS membutuhkan banyak keahlian dari seluruh dunia, termasuk kaum perempuan, untuk mengelola tatanan yang mereka sebuat "khilafah" itu.

Mereka tak saja membutuhkan orang-orang yang mau bertempur untuk mereka, namun juga pegawai, insinyur, tenaga administrasi, guru, ahli Humas, sampai perempuan-perempuan untuk dijadikan istri-istri mereka demi membesarkan masyarakat baru mereka, terutama di Raqqa, Suriah, di mana mereka memusatkan "sistem pemerintahannya".  

Mereka paham benar teknologi digital, Internet, dan media sosial, dan untuk itu mereka memaksimalkan teknologi canggih terkini untuk merekrut simpatisan-simpatisannya dari seluruh dunia.

Mereka mencuci otak para pemuda pemudi seluruh dunia dengan video-video kualitas tinggi dengan videografi yang juga canggih sekelas Hollywood, sehingga sebagian pemuda pemudi itu jatuh terpesona untuk kemudian memutuskan pergi dan bergabung dengan mereka.

Bagaimana barunya metode ISIS merekrut para perempuan muda sebagai aktivis dan simpatisannya digambarkan dalam sebuah kisah yang ditulis seorang wartawati Prancis yang namanya disamarkan sebagai Anna Erelle.

Berikut kisah ini disiarkan dan kemudian disebarluaskan kembali oleh banyak media massa secara online, terutama yang dituliskan kembali oleh wartawati Sunday Times of London, Margarette Driscoll:

 

Sumber : Antara

Tag : ISIS
Editor : Bambang Supriyanto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top