Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

EKSPOR FURNITUR: RI Ingin Tandingi Efisiensi Vietnam

Kementerian Perdagangan menjanjikan pendampingan bagi para pengusaha furnitur untuk memuluskan ekspor produk mereka, dengan memetakan cara untuk menandingi efisiensi industri mebel Vietnam.
Wike Dita Herlinda
Wike Dita Herlinda - Bisnis.com 13 Februari 2015  |  13:54 WIB
EKSPOR FURNITUR: RI Ingin Tandingi Efisiensi Vietnam
RI ingin genjot ekspor furnitur. -
Bagikan

Bisnis.com, SURABAYA— Kementerian Perdagangan menjanjikan pendampingan bagi para pengusaha furnitur yang berminat mengekspor produknya, dengan memetakan cara untuk menandingi efisiensi industri mebel Vietnam.

Menteri Perdagangan Rachmat Gobel kembali menegaskan target untuk menjadikan furnitur sebagai salah satu tulang punggung untuk mencapai pertumbuhan target ekspor 300% dalam lima tahun, alias dari US$184,3 miliar pada 2014 menjadi US$458 miliar pada 2019.

“Mulai sekarang, yang harus kita lihat ketika mengejar target ekspor adalah melihat berapa kontribusi produk Indonesia terhadap total pasar dunia. Dari situ kita bisa memetakan cara untuk mengejar ketertinggalan yang harus dicapai pada 2019,” katanya.

Khusus untuk ekspor produk furnitur, Rachmat mengatakan problema Indonesia masih berkutat pada tingginya ongkos produksi. Oleh karena itu, targetnya dalam jangka pendek adalah bagaimana menekan biaya produksi antara 20%-30%.

Salah satu caranya adalah dengan membangun trading house untuk menyediakan bahan baku sehingga bisa mengurangi ongkos produksi lebih dari 20%. Menurutnya, selama ini perusahaan furnitur tidak efisien karena lahan yang dibutuhkan terlalu luas.

“Saya lihat [perusahaan furnitur] harus punya lahan besar, stoknya banyak. Ini inefisiensi. Lalu, alat pengeringannya tidak dipakai 24 jam, itu juga inefisiensi. Ini yang harus kita atasi, termasuk juga masalah di pelabuhan. Kita harus utamakan service, quality, and delivery,” katanya.

Dia mengungkapkan rencana untuk mendorong PT Sarinah (Persero) sebagai trading house yang dapat juga berfungsi sebagai design center untuk produk-produk ekspor. Hal tersebut, menurutnya, juga akan memengaruhi penurunan ongkos produksi.

Adapun, strategi lainnya adalah menggunakan atase perdagangan untuk mencari pasar di luar negeri dan berapa kebutuhannya. Selain itu, peran ITPC juga akan dimaksimalkan sebagai instrumen pemasaran. “Kita jangan hanya promosi, tapi harus berjualan.”

“Ketika ada investor asing masuk ke sini, saya haruskan supaya 50% produknya diekspor dan 50% lainnya untuk pasar dalam negeri. Sehingga, [saat terjadi gejolak] mereka tidak gampang hengkang begitu saja,” imbuh Rachmat.

Pada 2013, total ekspor furnitur RI menyentuh US$1,82 miliar, sedangkan pada Januari-November 2014 nilainya mencapai US$1,63 miliar. Negara tujuan utamanya a.l. Amerika Serikat, Jepang, Inggris, Belanda, Jerman, Prancis, Australia, Belgia, Korea, danTaiwan.

Khusus untuk AS saja, total pangsa pasarnya mencapai US$19,7 miliar. Namun, RI hanya mampu menguasai 3%-nya saja. Adapun, pangsa terbesar direbut oleh China (59%), Vietnam (11%), serta Kanada dan Meksiko (masing-masing 5%).

KALAH JAUH

Menurut Asosiasi Mebel dan Kerajinan Indonesia (Amkri), Vietnam adalah pemain yang relatif baru dalam pasar furnitur. Secara bahan baku dan kualitas, Indonesia sebenarnya lebih unggul. Namun, dari sisi ongkos produksi dan biaya pekerja RI kalah jauh.

“Itu karena Pemerintah Vietnam bisa mengeliminasi hambatan untuk manufaktur. Pabrik-pabrik furnitur di sana dipacu untuk lebih kreatif dan inovatif, serta proaktif dalam meningkatkan pasar internasionalnya,” kata Ketua Amkri Soenoto.

Sebaliknya, di Indonesia, harga produk furniturnya lebih mahal lantaran proses administrasi, regulasi impor komponen dan bahan bakunya rumit. Bagi investor asing, hal tersebut mengurangi daya tarik RI.

Akibatnya, beberapa importir furnitur asing mulai menurunkan ordernya dari Indonesia dan mulai beralih ke Vietnam. Padahal, jumlah bahan baku dan kualitas produk Vietnam tidak sebaik milik Indonesia.

“Saya rasa pemerintah harus memikirkan efisiensi, khususnya dari komponen tenaga kerja. Bukan berarti buruh harus digaji murah, tapi hal itu bisa dikompensasi melalui penghapusan hambatan-hambatan regulasi yang selama ini menyebabkan ongkos produksi naik.”

Direktur Divisi Industri PT Propan Raya ICC Nugroho ArgoPuranto menambahkan hal lain yang menjadi kendala ekspor furnitur adalah bahan finishing yang sesuai dengan spesifikasi dari para pembeli luar negeri, seperti AS, Uni Eropa, dan Jepang.

“Selain menghendaki bahan finishing yang sesuai dengan tuntutan desain warna dan kualitas yang dikehendaki, mereka juga meminta adanya jaminan environmental and health compliance,” ungkapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekspor furnitur
Editor : Linda Teti Silitonga
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top