Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

GANGGUAN TANAM: Angin Musim Kemarau Buat Lahan Mengering Lebih Cepat

Musim kemarau yang disertai angin membuat pengeringan lahan terjadi dua kali lebih cepat sehingga berpotensi memicu gagal panen lebih luas.
Miftahul Ulum
Miftahul Ulum - Bisnis.com 03 Oktober 2014  |  17:55 WIB
GANGGUAN TANAM: Angin Musim Kemarau Buat Lahan Mengering Lebih Cepat
Ilustrasi
Bagikan

Bisnis.com, SURABAYA -- Musim kemarau yang disertai angin membuat pengeringan lahan terjadi dua kali lebih cepat sehingga berpotensi memicu gagal panen lebih luas.

Kepala Bidang Produksi Tanaman Pangan Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur Ahmad Nur Falakhi mengungkapkan pada kemarau biasa yang terjadi hanya penguapan. Uap air tersebut lantas dalam kepadatan tertentu mengambang di udara.

Adapun yang terjadi kali ini, kata dia, uap yang mengambang tersebut terdorong angin yang relatif lebih kencang. Fenomena yang merupakan bagian dari el-Nino  ini menyebabkan kepadatan uap air di udara menjadi longgar.

“Ini menyebabkan penguapan yang terjadi semakin cepat karena kepadatan uap air yang melayang rendah. Air di tanah jadi lebih cepat menguap serupa disedot angin pula,” jelasnya, Jumat (3/10/2014).

Menurutnya bagi petani yang menanam komoditas palawija seperti jagung ada baiknya melakukan penutupan tanah. Daun jagung atau jerami digunakan menutup tanah di sela-sela tanaman.

“Biar uap air tertahan dulu tidak langsung terlepas ke udara,” tambahnya.

Dia menilai menutup permukaan tanah dengan dedaunan atau jerami bisa pula dilakukan pada tanaman kedelai.

Pada periode September-Desember 2014 luasan pertanaman jagung di Jawa Timur 288.343 hektare (ha) dari total luasan panen sepanjang tahun 1,19 juta ha.

Sedangkan luasan panen kedelai 83.060 ha dari total panen sepanjang tahun 202.906 ha.

Adapun luas tanaman padi diprediksi 298.384 hektare luasan panen sepanjang tahun 2 juta hektare.

Padi pada musim kemarau seperti saat ini biasa ditanam di daerah aliran sungai sehingga ketersediaan air terjaga.

Nur Falakhi menuturkan pemerintah memprediksi ada 533 hektare lahan padi gagal panen akibat kekeringan.

Pemerintah pun sudah menyiapkan bibit padi maupun palawija bila dirasa diperlukan untuk musim tanam tahun selanjutnya.

Dalam kesempatan berbeda, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Jawa Timur Achmad Robiul Fuad menguraikan ada 22 kabupaten dengan 642 desa kekeringan di provinsi ini.

Daerah dengan tingkat kekeringan terparah di antaranya Sampang, Madura.

“Kami untuk penanganan fokus terhadap ketersediaan konsumsi warga, sehingga akan dilakukan dropping air,” jelasnya.

Penyaluran air bersih ini, kata dia, dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Nasional, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jatim dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah setempat.

Kepala Pusat Studi Kebencanaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Amin Widowo menilai kekeringan harus diantisipasi dengan membuat hutan-hutan serapan air.

Tanpa ada usaha menahan laju air maka kejadian serupa akan terus berulang setiap tahun.

“Kenapa kok hutan? Karena air hujan jatuh tertahan daun di pohon, menetes di tanah dipercepat masuk ke tanah dengan daun dan ranting. Kepala daerah harus menghutankan bukit agar problem kekeringan setiap tahun ini teratasi,” tegasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kemarau
Editor : Saeno
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top