Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Madya: Usut Pencurian Benda Cagar Budaya!

Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (Madya) mendesak aparat penegak hukum untuk mengusut kasus pencurian benda cagar budaya Indonesia yang beberapa di antaranya diketahui berada di luar negeri.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 29 September 2014  |  13:12 WIB
Madya: Usut Pencurian Benda Cagar Budaya!
Aparat didesak usut pencurian benda cagar budaya - Bisnis
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA--Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (Madya) mendesak aparat penegak hukum untuk mengusut kasus pencurian benda cagar budaya Indonesia yang beberapa di antaranya diketahui berada di luar negeri.

Koordinator Madya Johannes Marbun mengatakan penegak hukum perlu mengusut perpindahan benda cagar budaya tersebut dari lokasi asalnya. "Seperti patung artefak perunggu dari Larantuka, Flores itu, terakhir terlihat tahun 1977, kemudian tahun 2006 ada di sebuah galeri di Australia," ujarnya, Senin (29/9/2014).

Galeri di Australia tersebut, menurutnya, membeli artefak yang berasal dari abad ke-6 Masehi itu dari seorang kolektor berkebangsaan Swiss yang meninggal dunia pada 2013. Patung perunggu wanita yang sedang menenun sambil menyusui bayi itu juga tengah hangat diperbincangkan terkait asal usulnya oleh media massa Australia.

Johannes mengatakan beberapa kasus-kasus pencurian benda cagar budaya yang belum jelas pengusutannya antara lain pencurian 87 artefak emas dari Museum Sonobudoyo pada Agustus 2010. Selanjutnya, pencurian empat artefak emas dari Museum Nasional pada 11 September 2013, dan pencurian benda cagar budaya dari beberapa museum daerah lainnya di Indonesia.

"Termasuk penggalian liar di berbagai daerah terhadap situs-situs seperti Trowulan, dan situs Muaro Jambi yang menunjukkan masih lemahnya pengawasan dan perlindungan terhadap artefak budaya," katanya.

Selain itu, dia menyebutkan ada satu kasus yang sempat diadvokasi Madya atas penggalian ilegal empat prasasti perunggu di Kalibaru, perbatasan Banyuwangi dengan Jember pada Oktober 2013. Empat prasasti itu kemudian dijual ke sebuah galeri seni di Bali. Dari hasil penelurusannya, Bali disinyalir menjadi tempat transit perdagangan benda cagar budaya ilegal sebelum dibawa ke luar negeri.

Peneliti Utama dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Bambang Budi Utomo mengatakan pengamanan artefak merupakan tanggung jawab Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, Dirjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. "Kami sangat menyesalkan pencurian-pencurian yang masih terjadi dan pengusutannya juga tidak jelas. Seharusnya ada perbaikan dari internal," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

budaya

Sumber : Antara

Editor : Rachmad Subiyanto
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top