Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Spekulasi Quantitative Easing Menguat

Pelaku pasar keuangan masih menunggu gebrakan European Central Bank (ECB) selanjutnya, setelah bank sentral tersebut memutuskan untuk memangkas suku bunga dan mengguyur kredit di zona euro.
Amanda Kusumawardhani
Amanda Kusumawardhani - Bisnis.com 09 Juni 2014  |  01:41 WIB
Spekulasi Quantitative Easing Menguat
Bagikan

Bisnis.com, FRANKFURT—Spekulasi rentetan kebijakan pelonggaran lainnya, termasuk quantitative easing (QE), masih terus mengemuka di tengah kekhawatiran paket kebijakan awal itu akan gagal mengerek naik inflasi dan meredam kebrutalan euro.

Sebagai tahapan awal, paket kebijakan pelonggaran moneter antara lain pemangkasan suku bunga acuan, injeksi likuditas ke sistem finansial, operasi pembiayaan jangka panjang (long-term refinancing operation/LTRO) untuk mendongkrak kredit ke perusahaan, dan pembelian asset-backed securities(ABS).

Namun, sebelum investor memperdebatkan apakah ECB akan menggunakan QE sebagai jurus ampuh untuk membangkitkan ekonomi zona euro, ECB harus memastikan kerjasama Jerman dalam mendukung kebijakan itu.

Gubernur bank sentral Jerman Jens Weidmann telah menegaskan bahwa pembicaraan mengenai kebijakan pelonggaran lanjutan cukup ‘absurd’.

Pasalnya, ECB baru saja merilis sejumlah paket kebijakan sehingga pasar harus menunggu hingga kebijakan itu menunjukkan keefektifannya.

Selain QE, sepertinya ECB tidak memiliki kebijakan tersisa setelah kebijakan awal yang diumumkan bank sentral tersebut pada Kamis (5/6).

Apalagi, komentar Draghi dalam konferensi pers mengemukakan kebijakan pelonggaran tidak akan berakhir di satu tahapan saja, sehingga mengindikasikan ECB masih memiliki seabrek opsi kebijakan.

Tetapi, ECB tentunya akan menilai keefektifan paket tersebut dalam mengatasi ancaman deflasi, sebelum merilis kebijakan lanjutan.

“ECB membutuhkan waktu setidaknya hingga Desember untuk menilai keefektifan paket kebijakan pelonggaran moneter itu,” ungkap Vitor Constancio, Wakil Gubernur ECB di Frankfurt, Jumat (6/6).

Constancio juga menambahkan kebijakan QE membutuhkan program pembelian aset masif untuk memerangi deflasi dan meningkatkan kepercayaan bisnis.

Adapun, ECB merevsi turun prospek ekonomi zona euro yang hanya tumbuh 1% pada tahun ini dari estimasi sebelumnya yaitu 1,2% pada 2014. Selain itu, outlook inflasi juga dipangkas menjadi 0,7% pada tahun ini, 1,1% pada 2015, dan 1,4% pada 2016.

Untuk prospek inflasi, laju inflasi masih jauh di bawah target ECB yaitu mendekati 2%. Inflasi di kawasan yang terdiri dari 18 negara ini terus bertengger di bawah 1% sejak Oktober tahun lalu.

“Semua sudah dilakukan sekarang. Satu-satunya yang belum dilakukan adalah pembelian aset masif. Jika kami mendapatkan berita buruk, maka respon pasar akan terus mendesak adanya QE,” kata Richard Barwell, ekonom RBS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

zona euro euro zone

Sumber : Reuters

Editor : Rustam Agus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top