Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Panen Mundur, Ekspor Kopi Kuartal I/2014 Turun 30%

Asosiasi Ekspor Kopi Indonesia (AEKI) menyatakan penurunan ekspor kopi pada kuartal I/2014 sebesar 30% lantaran panen yang bergeser menjadi Mei dan Juni.
Ana Noviani
Ana Noviani - Bisnis.com 27 April 2014  |  14:53 WIB
Kendati mengalami kenaikan harga, daya beli importir dinilai masih sangat baik.  - bisnis.com
Kendati mengalami kenaikan harga, daya beli importir dinilai masih sangat baik. - bisnis.com

Bisnis.com, SEMARANG - Asosiasi Ekspor Kopi Indonesia (AEKI) menyatakan penurunan ekspor kopi pada kuartal I/2014 sebesar 30% lantaran panen yang bergeser menjadi Mei dan Juni. 

Moelyono Soesilo, Wakil Ketua AEKI Jateng, mengatakan cuaca buruk pada awal tahun menyebabkan mundurnya panen kopi di sejumlah sentra perkebunan kopi di Tanah Air. 

"Biasanya panen kopi di Indonesia itu Maret-April, tahun ini sepertinya bergeser mulai Mei-Juni karena cuaca jelek," ujarnya, Sabtu (26/4/2014). 

Tak hanya panen yang bergeser, produksi kopi pada tahun ini pun diproyeksi turun 20%-25%. Pasalnya, lanjut Moelyono, proses pembungaan yang berlangsung pada Agustus-Oktober terganggu angin kencang sehingga menyebabkan bunga kopi rontok. 

"Minimal produksi turun 20%. Produksi tahun ini paling banyak 8 juta-9 juta karung robusta dan 1,5 karung arabika, 1 karung beratnya 60 Kg," katanya. 

Moelyono menuturkan bergesernya panen dan turunnya produksi tersebut membuat ekspor lesu. Pada kuartal I/2014, ekspor diproyeksi turun 30% dibandingkan ekspor pada periode yang sama tahun lalu. 

"Angka pastinya belum ada, tapi kuartal I/2014 itu turun 30% year-on-year. Panen kan mundur, carry over stok akhir 2013 juga sedikit sekali, jadi otomatis ekspor turun," tuturnya. 

Jepang merupakan pangsa pasar terbesar ekspor kopi Jateng. Menurut Moelyono ekspor kopi ke Jepang mencapai 30%, disusul Eropa Barat 25%, Amerika Serikat 10%, serta 35% ke Asia, Timur Tengah, dan Eropa Timur. 

Penurunan produksi kopi, imbuhnya, tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di Brazil. Lantaran kekeringan ekstrim dan risiko El-Nino, produksi kopi Brazil diproyeksi melorot 10 juta karung dari kondisi normal 56 juta-58 juta karung menjadi 46 juta-48 juta karung pada 2014. 

Kondisi tersebut berisiko menurunkan pasokan kopi ke pasar internasional yang berujung pada merangkaknya harga kopi. Bahkan, apabila terjadi El-Nino, harga kopi pada 2015 diproyeksi akan melampaui harga tertinggi pada 2011. 

"Harga robusta dari Januari sampai sekarang sudah naik lebih dari 40%. Normalnya US$1.480/ton, sekarang US$2.000-2.200/ton," kata Moelyono. 

Kendati mengalami kenaikan harga, daya beli importir dinilai masih sangat baik. Namun, eksportir kopi asal Indonesia harus bersaing dengan Vietnam yang menjual kopi dengan harga lebih murah. 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kopi
Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top