Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Jabar Pacu Produksi Daging Lewat Kawin Alam

Pemprov Jawa Barat menggenjot peningkatan produksi daging pada 2014 melalui intensifikasi kawin alam (INKA) dan aksi penyelematan sapi benita.
Wandrik Panca Adiguna
Wandrik Panca Adiguna - Bisnis.com 27 Februari 2014  |  15:50 WIB

Bisnis.com, BANDUNG--Pemprov Jawa Barat menggenjot peningkatan produksi daging pada 2014 melalui intensifikasi kawin alam (INKA) dan aksi penyelematan sapi benita.

Kepala Dinas Perternakan (Disnak) Jabar Dody Firman Nugraha, mengemukakan jumlah populasi sapi saat ini belum bisa mengimbangi jumlah permintaan daging sapi. Baik, untuk konsumsi rumah tangga atau pun industri.

Saat ini jumlah populasi sapi di Jabar sekitar 430.000 ekor sedangkan kebutuhan sapi mencapai sekitar 665.000 ekor.

"Dengan upaya intensifikasi kawin alam dan penyelamatan sapi perah diharapkan ada peningkatan populasi sekitar 12%," katanya kepada Bisnis.com, Kamis (27/2/2014).

Menurutnya, meski target peningkatan produksi tersebut terbilang kecil. Hal itu akibat laju permintaan daging sapi yang semakin cepat.

Oleh karena itu, melalui sistem INKA tersebut diharapkan jumlah kelahiran sapi lokal dapat meningkat. Serta, kualitas sapi yang dilahirkan pun dapat ikut terdongkrak dengan baik.

Dia menjelaskan, INKA merupakan sistem pengawinan sapi yang dilakukan secara alamiah, mendatangkan sapi jantan khusus untuk menghindari sapi proses pengawinan sedarah (inbreeding) akibat minimnya jumlah penjantan.

"Juga dapat menghindari kemunduran masa kelahiran sapi. Kualitas sapi yang dilahirkan pun dapat terjaga dengan baik," ujarnya.

Selain itu, Disnak akan sering melakukan pembinaan kepada para peternak sapi betina (sapi perah). Guna, meminimalisir penyusutan sapi yang khusus memproduksi susu setelah sebelumnya marak penyembelihan yang dilakukan peternak.

"Namun, kami terkendala dengan jumlah SDM yang dimiliki untuk memberikan pembinaan kepada petenak. Serta anggaran yang mencukupi untuk mendorong peningkatan tersebut," katanya.
 
Ditempat terpisah, salah satu pedagang Pasar Kosambi Kota Bandung Dede Sunendar, mengatakan harga daging sapi yang dijualnya masih tinggi. meski produk daging impor sudah membanjiri pasar.

Dia mengaku, sebagian pedagang lebih memilih mencari daging lokal dibandingkan dengan daging impor. Sebab, dari sisi kualitas daging lokal lebih baik.

"Minat pembeli pun cenderung memilih daging lokal dari pada daging impor sehingga mau tidak mau kami mencari daging produk lokal," ujaranya.

Namun, lanjut Dede, minimnya ketersediaan daging lokal ditempat pemotongan sapi. Memungkinkan harga cenderung tetap tinggi. "Kami menjual daging dengan harga Rp95.000 per kg. Harga cenderung stabil sejak hari raya Idul Adha."

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

daging jabar produksi daging
Editor : Rustam Agus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top