Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

India Akan Persempit Defisit Fiskal

Pemerintah India berjanji akan mempersempit defisit fiskal ke level terendah selama 7 tahun terakhir dalam anggaran sementara sebelum pemilihan umum Mei tahun ini.
Amanda Kusumawardhani
Amanda Kusumawardhani - Bisnis.com 17 Februari 2014  |  17:40 WIB
Mata uang Rupee anjlok 125 terhadap dolar AS beberapa tahun belakangan sedangkan indeks S&P BSE Sensex menguat 0,2%.  - bisnis.com
Mata uang Rupee anjlok 125 terhadap dolar AS beberapa tahun belakangan sedangkan indeks S&P BSE Sensex menguat 0,2%. - bisnis.com

Bisnis.com, NEW DELHI—Pemerintah India berjanji akan mempersempit defisit fiskal ke level terendah selama 7 tahun terakhir dalam anggaran sementara sebelum pemilihan umum Mei tahun ini.

Namun, pada saat yang sama India meningkatkan belanja pertahanan dan mengurangi pajak sementara untuk mobil dan ponsel.

Menteri Keuangan India Palaniappan Chidambaram  mengemukakan defisit fiskal akan menyempit menjadi 4,1% dari produk domestik bruto (PDB) pada 31 Maret 2015 sedangkan   defisit tahun fiskal saat ini akan menyentuh 4,6% dari PDB.

“Prediksi tersebut lebih kecil dari estimasi sebelumnya yaitu 4,8%. Lebih lanjut, bujet sementara tersebut akan digunakan untuk membiayai aktifitas pemerintah hingga parlemen baru terbentuk,”katanya di New Delhi, Senin (17/2/2014).

Seperti diketahui, Perdana Menteri India Manmohan Singh tengah menghadapi kemerosotan ekonomi yang memukul pendapatan pajak menyusul depresiasi Rupee yang menaikkan biaya impor minyak dan subsidi bahan bakar minyak (BBM).

Tidak hanya itu, Standard & Poor memperingatkan India pada November lalu untuk mengantisipasi penurunan rating investasi yang dianugerahkan pada 2007.

Standard & Poor menyatakan penurunan rating tersebut bisa dihindari apabila pemilihan umum mampu menciptakan pemerintah baru yang stabil dan responsif.

“Para analis dan lembaga pemeringkat rating telah melihat upaya [kami] dalam menggenjot ekonomi dan tidak lagi membicarakan mengenai penurunan peringkat India,”imbuhnya.

Untuk itu, ungkapnya, dirinya mengajak semua partai untuk bergabung dengannya dalam melakukan tindakan yang akan berdampak pada terguncangnya perekonomian India.

Chidambaram juga menambahkan defisit neraca transaksi berjalan akan mencapai US$45 miliar pada tahun fiskal hingga Maret tahun ini, lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yaitu US$88 miliar.

Selain itu, pemerintah memprediksi cadangan devisa bertambah sebesar US$15 miliar. 

Sementara itu, ekonom ICICI Securities Primary Dealership di Mumbai Prasanna Ananthasubramanian menjelaskan reformasi defisit fiskal terkait dengan komitmen pemerintah yang kuat untuk mengadakan konsolidasi fiskal.

“Jika melihat volatilitas pasar internasional, wajar adanya jika India dilanda defisit fiskal dan inflasi sehingga mengakibatkan India menjadi rentan,”ucapnya.

Mata uang Rupee anjlok 125 terhadap dolar AS beberapa tahun belakangan sedangkan indeks S&P BSE Sensex menguat 0,2%.

 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

india defisit transaksi berjalan defisit fiskal

Sumber : Bloomberg

Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top