Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Rosengren: Pangkas Belanja Obligasi Bertahap, Hindari Gangguan Ekonomi

Kepala bank sentral Boston, Eric Rosengren mengatakan para pembuat kebijakan harus menghindari gangguan ekonomi dan memangkas stimulus secara bertahap.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 08 Januari 2014  |  08:30 WIB
Rosengren: Pangkas Belanja Obligasi Bertahap, Hindari Gangguan Ekonomi
Kepala bank sentral Boston, Eric Rosengren. - dn.no
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA—Kepala bank sentral Boston, Eric Rosengren mengatakan para pembuat kebijakan harus menghindari gangguan ekonomi dan memangkas stimulus secara bertahap.

“Pemulihan ini berjalan terlalu lambat dan kami tidak ingin dilakukan pengetatan kebijakan moneter terlalu dini sambil menunggu kondisi ekonomi kembali normal,” ujar Rosengren dalam pidatonya di Hartford, Connecticut, hari ini Rabu (8/1/2014).

Rosengren merupakan tokoh bank sentral yang menentang pengetatan belanja obligasi.

Menurutnya, normalisasi secara sangat gradual sangat cocok karena tingkat pengangguran masih tinggi tidak seperti biasanya, sedangkan inflasi masih rendah di luar perkiraan.

Komisi Pasar Terbuka Federal (FOMC) bulan lalu memutuskan untuk memperketat pembelian obligasi hingga US$75 miliar per bulan dari US$85 miliar. Mereka beralasan munculnya prospek yang menggembirakan di sektor tenaga kerja.

Para pembuat kebijakan dijadwalkan bertemu pada 28-29 Januari dan kemungkinan akan menurunkan belanja obligasi sebesar US$10 miliar selama tujuh pertemuan mendatang sebelum mengakhirinya pada Desember.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

as fomc

Sumber : Bloomberg

Editor : Fatkhul Maskur
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top