Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bank Dunia: Negara Berkembang Hadapi ‘Awal dari Akhir’ Krisis

Indonesia kembali diingatkan untuk lebih mempersiapkan diri terhadap prospek pengurangan stimulus (tapering) Federal Reserve Amerika Serikat, yang dinilai dapat menjadi awal dari akhir sebuah era krisis di negara berkembang.
Wike Dita Herlinda
Wike Dita Herlinda - Bisnis.com 03 Desember 2013  |  20:07 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—Indonesia kembali diingatkan untuk lebih mempersiapkan diri terhadap prospek pengurangan stimulus (tapering) Federal Reserve Amerika Serikat, yang dinilai dapat menjadi ‘awal dari akhir’ sebuah era krisis di negara berkembang.
 
Pendapat itu diungkapkan oleh Direktur Pelaksana dan CFO Bank Dunia Bertrand Badre dalam kunjungan perdananya ke Jakarta, Selasa (3/12/2013).

Dia mengatakan tahun depan, outlook ekonomi global akan lebih menantang dan dapat berdampak ganda bagi pasar berkembang.
 
“Ekonomi global memang selalu penuh tantangan, terutama karena ada perubahan dalam 6-7 tahun terakhir sejak dimulainya krisis. Jika saya dapat menyimpulkan, kita mungkin sedang berada di ‘awal dari akhir’atau ‘akhir dari awal’ sebuah krisis,” katanya.
 
Khusus untuk pasar negara berkembang, Bertrand melihat adanya proses stabilisasi yang berjalan dengan baik. Negara berkembang juga akan tetap menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi global.
 
Namun, pada saat bersamaan, gelombang pemulihan ekonomi di kawasan maju seperti Eropa, AS, dan Jepang juga kian menguat. “Jadi itulah mengapa Anda akan melihat sesuatu akan terjadi tahun depan,” ujar Bertrand.
 
Sejalan dengan tren diskursus tapering yang digadang-gadang sebagai tantangan kunci ekonomi global 2014, Bank Dunia mengingatkan agar Indonesia dan negara berkembang lain siap menerima normalisasi kebijakan AS, paling tidak dari prespektif kualitatif.
 
Sebagaimana diprediksi mayoritas ekonom di seluruh dunia, tapering kemungkinan terjadi kuartal I/2014.

The Fed secara perlahan akan mengurangi akuisisinya terhadap sekuritas beragun KPR, sembari mempertahankan suku bunga acuan (federal funds rate) pada level rendah.
 
Hal itu akan membuka konektivitas di dalam pasar dan dapat menjadi tantangan besar bagi negara berkembang, karena mereka selama 4-5 tahun terakhir diuntungkan oleh aliran likuiditas dari negara maju.

"Negara berkembang mungkin masih bisa mengambil keuntungan dari program quantitative easing [QE] oleh Jepang,” lanjut Bertrand.
 
Dalam kunjungannya ke Jakarta, Bertrand juga menemui Menteri Keuangan M. Chatib Basri. Namun, dia mengaku tidak membahas proyek finansial khusus dan lebih menekankan pembicaraan pada isu-isu lingkungan global dan persiapan jelang tapering.
 
Bagaimanapun, dia mengungkapkan Bank Dunia memiliki niat baik untuk menggelontorkan pinjaman lebih bagi Indonesia apabila memang dibutuhkan.  
 
“Karena negara berkembang masih penuh tantangan, Bank Dunia akan membantu menavigasi negara berkembang untuk melalui proses tersebut. Bukan hanya dalam bentuk dukungan finansial, tapi juga memberi lebih banyak bantuan pengetahuan, nasehat, dan jasa lainnya,” jelasnya.  (ra)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank dunia ekonomi global
Editor : Rustam Agus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top