Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Produksi Migas Kaltim Terus Turun

Bisnis.com, SAMARINDA - Akibat belum ditemukannya dan mulainya beroperasi sumur-sumur baru, produksi migas Kaltim terus mengalami penurunan. 
News Editor
News Editor - Bisnis.com 16 Agustus 2013  |  13:45 WIB

Bisnis.com, SAMARINDA - Akibat belum ditemukannya dan mulainya beroperasi sumur-sumur baru, produksi migas Kaltim terus mengalami penurunan. 

Kondisi ini memengaruhi kinerja industri pengolahan Kaltim yang terus terkontraksi sepanjang 2013.

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kaltim mencatat ekspor migas Kaltim sampai kuartal II/2013 (data hingga Mei 2013) mencapai US$2.288 juta turun 24,95%.

"Penurunan industri pengolahan Kaltim terutama disebabkan oleh masih negatifnya pertumbuhan pengapalan LNG PT Badak Bontang, ditambah dengan menurunnya kinerja ekspor minyak Kaltim. Kami sulit prediksi kinerja migas Kaltim ke depan karena semuanya tergantung kebijakan pemerintah pusat," ujar Kepala Kantor Perwakilan BI Kaltim, Ameriza M. Moesa, Jumat (16/8/2013).

Dari pantauan BI Kaltim, saat ini, produksi migas Kaltim masih berasal dari sumur-sumur tua dan sulit meningkatkan produksinya. Sumur baru migas dikabarkan masih tahap eksplorasi yang ditemukan di Blok Rapak Mahakam II, dan belum segera beroperasi.

Apabila sumur baru tersebut beroperasi, BI Kaltim menyakini dapat mendorong industri pengolahan Kaltim untuk keluar dari zona pertumbuhan yang negatif.

BI Kaltim mencatat kontraksi semakin dalam dialami sektor industri pengolahan Kaltim menjadi -8,75 % pada kuartal II/2013, dari kuartal sebelumnya kontraksi -7,51 %.

Ini menyebabkan sektor pengolahan Kaltim menjadi satu-satunya sektor yang berkontribusi negatif terhadap pertumbuhan ekonomi Kaltim sebesar -2,07 %.

Pertumbuhan positif sebesar 4,76 % terjadi di industri pengolahan migas yang didominasi oleh produksi Pupuk Kaltim dan PT Badak. Namun, pertumbuhan ini melambat dibandingkan dengan periode sebelumnya yang mencapai 8,18 %.

Menurut Ameriza, perlambatan terjadi karena natural declining produksi gas Kaltim yang merupakan bahan baku LNG dan pupuk. Natural declining produksi gas Kaltim sedikit terkurangi seiring dengan berproduksinya gas dari proyek South Mahakam Development 1 dan 2 pada pertengahan 2013. (M. Yamin/K26)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

migas kaltim
Editor : Sepudin Zuhri
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top