Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pertumbuhan Melambat, Negara Berkembang Rawan Konflik

Bisnis.com, MOSKWA - Pemerintah negara berkembang tengah berada di bawah tekanan kelas menengah yang menuntut belanja dan pelayanan yang lebih baik di tengah tren pembengkakan anggaran dan perlambatan pertumbuhan.
Wike Dita Herlinda
Wike Dita Herlinda - Bisnis.com 23 Juli 2013  |  17:23 WIB

Bisnis.com, MOSKWA - Pemerintah negara berkembang tengah berada di bawah tekanan kelas menengah yang menuntut belanja dan pelayanan yang lebih baik di tengah tren pembengkakan anggaran dan perlambatan pertumbuhan.

Para pembuat kebijakan, mulai dari Jakarta hingga Brasil, harus menghadapi kenyataan bahwa likuiditas global yang mendongkrak pertumbuhan selama 3 dekade terakhir kini telah mengering.

Data dari EPFR Global, institusi di Cambridge yang pemantau aliran modal, menunjukkan investor menggelontorkan US$111 miliar ke pasar negara berkembang pada 2012.

Dalam 8 pekan berakhir pada 17 Juli, para investor menarik dana sebesar US$40,3 miliar dari pasar obligasi dan ekuitas di negara-negara berkembang, seiring dengan kekhawatiran bahwa Federal Reserve akan mulai memangkas stimulus pada akhir tahun ini.

Rencana pengurangan quantitative easing (QE) The Fed bukanlah pemantik kemerosotan di pasar berkembang, karena Brasil, Rusia, India, dan China (BRIC) telah mengalami pelambatan sejak 2010.

Angel Gurria, Sekjen Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) mengatakan negara-negara berkembang lebih terpukul oleh dampak kebijakan Fed ketimbang mitra mereka di Eropa.

Hal itu terjadi karena mereka bergantung pada pertumbuhan untuk menghindari ketegangan sosial. “Kebutuhan [akan pertumbuhan di negara berkembang] jauh lebih mendasar,” ujarnya dalam sebuah wawancara di Moskwa, Jumat (19/7/2013).

Dia menjelaskan banyak keluarga di negara berkembang yang hidup di rumah dengan lantai tanah karena tidak memiliki kemampuan membeli semen. Dan, ini tidak sama dengan problem yang dihadapi kalangan menengah di Belanda.

Perlambatan pertumbuhan bukanlah satu-satunya pelatuk ketegangan sosial di negara - negara BRIC. Nomura International mengungkapkan ledakan kerusuhan yang akhir-akhir ini terjadi di Brasil dan Turki—dan 11 negara lain termasuk China, India, Rusia, Argentina, dan Venezuela—meningkatkan risiko pergeseran pasar akibat kerusuhan sipil dalam jangka pendek hingga menengah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Pertumbuhan Ekonomi oecd
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top