Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

INDUSTRI BATIK: Perajin Minta Kemudahan Bahan Baku

BISNIS.COM, SEMARANG – Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (Asephi), terutama yang begerak di industri batik meminta pemerintah untuk serius mempersiapkan produk hulu demi memudahkan perajin dalam memperoleh bahan baku. Ketua
Fajar Sidik
Fajar Sidik - Bisnis.com 07 April 2013  |  19:49 WIB

BISNIS.COM, SEMARANG – Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (Asephi), terutama yang begerak di industri batik meminta pemerintah untuk serius mempersiapkan produk hulu demi memudahkan perajin dalam memperoleh bahan baku.
 
Ketua Asosiasi Eksportir dan Produsen Handycraft Indonesia (Asephi) Kota Pekalongan Romi Oktabirawa mengatakan hampir 80% dalam tubuh batik, bahan bakunya masih impor.
 
“Hampir 80% dalam tubuh batik itu dari impor, mulai dari kain mori sebagai bahan baku kain batiknya, lilin untuk membatik juga masih impor. Yang asli lokal paling hanya tenaga kerjanya,” tuturnya, Minggu (7/4).
 
Romi yang juga Ketua Paguyuban Pecinta Batik tersebut mengatakan bahwa pemerintah harus serius membangun produk hulu sehingga perajin semakin mudah dalam mendapatkan bahan baku dan tidak terlalu bergantung dari impor.
 
“Karena kalau tidak maka pengrajin batik akan semakin tertekan keberadaannya mengingat harga bahan impor cenderung terus mengalami kenaikan, sementara kalau tidak impor tidak bisa berproduksi,” tuturnya.
 
Dia mengatakan saat ini harga kain mori, sebagai bahan kani utama batik, sudah mengalami kenaikan harga sekitar 25%, karena selama ini untuk membuat kain mori yang bahan utamanya kapas masih mengandalkan impor, selain itu untuk lilin juga masih mengandalkan impor.
 
Apalagi, lanjutnya, saat ini para perajin dihadapkan dengan kebijakan kenaikan Tarif Tegangan Listrik (TTL) sebesar 15% secara bertahap hingga setahun ke depan, tentu akan mengakibatkan sejumalh industri melakukan penyesuaian, dan ini dipastikan dampaknya berantai.
 
“Ini akan semakin membuat kami tertekan, di tengah sejumlah harga bahan baku batik yang terus naik. Sementara kami tidak berani menaikkan harga jual produk terlalu tinggi seiring persaingan bisnis batik yang semain ketat,” tuturnya.
 
Pihaknya memilih mengurangi margin yang diperoleh meskipun tetap melakukan penyesuaian harga jual produknya, mengingat daya beli masyarakat yang belum begitu baik, apalagi untuk pasar luar negeri yang masih belum pulih dari krisis.
 
“Harga produk maksimal akan naik antara 10%-15% saja, karena mempertimbangkan daya beli masyarakat, meskipun bermacam tantangan sudah menghadang, mulai dari masih lesunya pasar luar negeri, harga bahan baku naik, daya beli masyarakat domestik maupun soal kebijakan pemerintah menaikkan TTL,” ujarnya. (k39)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

batik bahan baku

Sumber : Puput Ady Sukarno

Editor : Others

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top