Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

PERUBAHAN IKLIM: Efek pulau panas menghangatkan musim dingin di Asia Utara

WASHINGTON: Kebutuhan akan energi kota besar meningkatkan pembakaran sebagian besar stok batubara dan minyak bumi untuk listrik, mobil dan perangkat lainnya.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 28 Januari 2013  |  09:48 WIB

WASHINGTON: Kebutuhan akan energi kota besar meningkatkan pembakaran sebagian besar stok batubara dan minyak bumi untuk listrik, mobil dan perangkat lainnya.


Menurut satu studi, pada akhirnya pembakaran energi itu menghasilkan panas yang berlebih yang dapat masuk ke arus atmosfir dengan suhu yang tinggi hingga berpengaruh ribuan kilometer jauhnya.


Limbah panas keluar dari bangunan, kendaraan dan sumber lainnya di kota-kota besar belahan bumi bagian Utara, sehingga membuat musim dingin yang lebih hangat di kawasan Asia Utara dan bagian Utara Amerika Utara.


Laporan Perubahan Iklim jurnal Nature menyebutkan dari apa yang dikenal sebagai efek pulau panas perkotaan membuat bangunan, jalan dan trotoar menjadi lebih hangat.


“Bahkan, kondisi tersebut membuat daerah perkotaan lebih panas dibandingkan dengan  daerah sekitarnya,” tulis laporan itu seperti dikutip Reuters, Senin (28/1).


Namun sebaliknya, kelebihan panas yang dilepaskan oleh pembakaran bahan bakar fosil muncul untuk mengubah pola sirkulasi udara, lalu mencari tumpangan pada arus udara dan laut, termasuk aliran jet.
Pembakaran bahan bakar fosil juga mengirim pemanasan karbon dioksida ke atmosfer, sehingga ikut berkontribusi terhadap pemanasan global.


Sementara itu, penulis studi Hu Aixue dari Pusat Penelitian Atmosfer Nasional di Colorado menuturkan kelebihan panas yang dihasilkan oleh pembakaran di kota-kota itu dapat mengubah pola atmosfer untuk menaikkan atau menurunkan suhu.


Beberapa lokasi terpencil memanas sebanyak 1,8 derajat F (1 derajat C) sebagai akibatnya, tapi beberapa bagian di kawasan Eropa mendingin, terutama di musim gugur, karena panas limbah perkotaan dari perubahan sirkulasi atmosfer. (Reuters/tri)


 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Rochmad Fitriana

Editor : Aprika Rani Hernanda

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top