Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

SURYA PALOH jadi ketum, Pengamat nilai Partai Nasdem Oligarkis

- Bisnis.com 25 Januari 2013  |  15:15 WIB
JAKARTA—Partai Nasdem dinilai gagal mentransformasikan kekuatan personal dari seorang figur sentral menjadi kekuatan institusional sehingga tidak berbeda dengan partai bercorak oligarki seperti pada masa Orde Baru .
 
Demikian dikemukakan oleh pengamat politik dari Universitas Gajah Mada, Ary Dwipayana menyusul rencana Kongres Partai Demokrat yang dipastikan akan mengusung pendiri Partai Nasdem, Surya Paloh sebagai Ketua Umum partai tersebut. Saat ini selain sebagai pendiri, Surya Paloh juga menduduki posisi sebagai Ketua Dewan Majelis Nasional.
 
Menurutnya, dengan terpilihnya Surya Paloh sebagai Ketua Umum Partai Nasdem maka persepsi publik bahwa partai tersebut bercorak firma bisnis semakin kuat. Partai yang bercorak firma bisnis tersebut, ujarnya, tidak ubahnya dengan parpol bercorak oligarkis yang kekuatan sentralnya apad pada figur pendirinya.
 
“Partai Nasdem ini tipe partai firma bisnis, dimana ada satu orang mendanai sumber pembiayaan partai sehingga kalau ini terjadi sesungguhnya aktivis partai akan menjadi elektoral mesin dari figur pemegang saham tunggal,” ujarnya kepada Bisnis, Jumat (25/1).
 
Sebagai partai yang mengklaim modern, ujarnya, Partai Nasdem seharusnya bisa mentransformasikan diri dari sosok kekuatan pemegang saham tunggal kepada kekuatan institusional. Apalagi, ujarnya Partai Nasdem mengusung tema kampanye restorasi dan perubahan dengan mempekerjakan anak-anak muda dan kalangan profesional.
 
Kendati demikian, dia menilai secara aturan tidak ada yang salah dengan corak kepemimpinan di partai tersebut karena di negara lain seperti di Italia  juga ada partai seperti itu. Dia menyebutkan partai Forza Italia yang dipimpin oleh taipan Silvio Belusconi juga bercorak firma bisnis.
 
Sebelumnya, Partai Nasdem dilanda konflik menysul keluarnya Ketua Dewan Pakar, Hary Tanoesoedibjo karena berbeda pendapat dengan Surya Paloh. Hary Tanoe keluar karena tidak ingin ada perubahan struktur partai yang dinilai sduah berhasil mengantarkan partai itu menjadi peserta Pemilu 2014, sementara Surya Paloh menginginkan perubahan struktur partai. Akhirnya tidak saja Hary Tanoe yang mengundurkan diri, tapi juga diikuti oleh Sekjen Ahmad Rofik dan sejumlah petinggi partai lainnya.
 
(faa) foto: petapolitik.com
 

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Fahmi Achmad

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top