Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

KISAH DI BALIK KEMATIAN DIRUT DAYAINDO: Diduga akibat terbelit utang

Rabu siang (23/1), redaktur saya tiba-tiba menelpon untuk memberitahukan perihal kabar meninggalnya Direktur Utama PT Dayaindo Resources International Tbk, Sudiro Andi Wiguna.Saya pun langsung mengonfirmasikan kebenaran informasi tersebut kepada sekretaris
- Bisnis.com 24 Januari 2013  |  23:48 WIB

Rabu siang (23/1), redaktur saya tiba-tiba menelpon untuk memberitahukan perihal kabar meninggalnya Direktur Utama PT Dayaindo Resources International Tbk, Sudiro Andi Wiguna.

Saya pun langsung mengonfirmasikan kebenaran informasi tersebut kepada sekretaris perusahaan Dayaindo Deni Hidayat tapi nomor ponsel yang bersangkutan tak lagi aktif. Saya coba telpon nomor kantornya tapi tak ada yang mengangkat.

Selang 15 menit kemudian, kabar meninggalnya Sudiro (foto, tengah) akhirnya terkonfirmasi setelah pengacara perusahaan Liston Sitorus membenarkan pria asal Blora Jawa Tengah itu telah menghembuskan nafas terakhirnya pada Rabu pagi di kediamannya.

Namun, saat itu belum diketahui pasti penyebab meninggalnya Sudiro. Sejak awal spekulasi yang beredar, Sudiro meninggal karena bunuh diri dan serangan jantung.

Sekitar pukul 19.48 WIB, dokter RS Fatmawati yang melakukan otopsi atas jenazah Sudiro menyatakan bahwa ciri-ciri luka yang ditemukan pada jenazah almarhum sama seperti ciri-ciri luka pada kasus gantung diri. "Nggak ada [tanda-tanda tindak kekerasan]," kata sang dokter kepada Bisnis Rabu (23/1/2013).

Selang sejam kemudian baru beredar broadcast dari Kapolsek Ciputat yang menyatakan bahwa telah terjadi kasus gantung diri dengan korban bernama Sudiro Andi Wiguna pada pukul 08.30 pagi di Menteng Residence Blok F C VIII No. 1 RT 4/12 Kelurahan Pondok Ranji Ciputat Timur Tangerang Selatan.

Hingga kini, pihak kepolisian masih menyelidiki motif dibalik tindakan gantung diri pada Wakil Bendahara Umum HIPMI itu.

Kasus dugaan bunuh diri yang dilakukan oleh orang nomor satu emiten berkode KARK itu seolah mengingatkan publik atas kasus bunuh diri yang dilakukan oleh adik bungsu Bos Texmaco Marimutu Manimaren 9 tahun silam.

Manimaren memilih mengakhiri hidupnya dengan terjun dari lantai 56 Hotel Aston Jakarta di mana dia menginap. Alasan pria berusia 46 tahun itu mengakhiri hidupnya adalah akibat depresi memikirkan nasib perusahaan-perusahaan milik kakaknya, Marimutu Sinivasan, yakni Texmaco.

Publik pun lantas menghubung-hubungkan kasus gantung dirinya pria yang baru berusia 35 tahun itu dengan sejumlah kasus utang dan perdagangan yang sedang membelit perusahaannya.

Berdasarkan catatan Bisnis, setidaknya ada tiga kasus besar yang membuat Dayaindo kesulitan di pengadilan niaga serta arbitrase.

Kasus pertama yang sudah diputus oleh lembaga arbitrase adalah kasus kontrak perdagangan dengan SUEK AG, perusahaan perdagangan batu bara dari Rusia. Dayaindo divonis melakukan wanprestasi atau gagal memenuhi kewajiban bisnis dalam kontrak perdagangan dengan SUEK AG.

Putusan pengadilan arbitrase menghukum Dayaindo membayar ganti rugi US$1 juta atau sekitar Rp9,6 miliar.

Dalam kasus kedua, Dayaindo berhadapan dengan perusahaan trading dari Swiss, Bulk Trading SA. Lagi-lagi, Dayaindo digugat dalam posisi wanprestasi atau gagal memenuhi kewajibannya dalam transaksi perdagangan dengan Bulk Trading SA.

Kasus itu di bawa ke pengadilan arbitrase dan Dayaindo divonis wanprestasi. Akibatnya, Dayaindo harus membayar ke Bulk Trading SA sebesar US$89.002,53 atau sekitar Rp857 juta) dan Rp15 juta. Bukan itu saja, Dayaindo diharuskan membayar bunga ke Bulk Trading SA sebesar 5,33% setahun.

Di dalam negeri, Dayaindo dililit utang sekitar Rp90 miliar melalui anak perusahaannya PT Daya Mandiri Resources Indonesia (DMRI). Kasus ini masih dalam penanganan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat.

Bank Internasional Indonesia (BII) Selaku bank penjamin menolak proposal damai Dayaindo, sehingga ada kemungkinan Dayaindo dinyatakan pailit oleh pengadilan niaga.

Menurut penurutan kawan yang intens mengikuti sidang perkara Dayaindo, kasus terakhir merupakan kasus yang memang banyak menyita perhatian pria yang dikenal sangat one man show itu dalam beberapa pekan terakhir.
 
"Dengan rasa tanggungjawab yang luar biasa itu sekaligus dia merasa paling bersalah karena sebagai penentu langkah [hingga berujung pada pailit]. Dan mungkin dia tidak melihat jalan penyelesaian lain," ucap kawan itu.

Jika Sudiro tidak 'ngotot' meminta voting, sambung kawan itu, mungkin perusahaannya belum akan dipailitkan dalam waktu dekat. "Alasan Sudiro minta segera voting [mungkin dengan asumsi bahwa pihaknya akan menang] adalah agar perusahaan bisa cepat segara aktif lagi," tuturnya.

Sebesar apapun masalah yang sedang dihadapi, rasanya terlalu susah diterima akal sehat jika sosok yang terkenal pintar, pandai bernegosiasi, dan rajin beribadah itu memilih jalan pintas itu dalam penyelesaian masalah yang dihadapinya. Terlebih, almarhum juga merupakan jebolan pondok pesantren.

Saya sendiri memang baru sekali bertemu dan mewancarai almarhum pada saat RUPSLB perseroan pada 28 Juli 2012. Dari pertemuan singkat itu, almarhum merupakan sosok yang memiliki optimisme tinggi untuk mengembangkan perusahaan yang dipimpinnya.

Di sela-sela RUPSLB itu, Sudiro pernah menyampaikan perihal penggalangan dana senilai US$150 juta yang sedang dia upayakan untuk kebutuhan pembangunan pabrik pengolahan nikel dan coal terminal yang total investasinya mencapai US$250 juta.

Jika tak ada aral melintang, menurutnya, pembangunan pabrik nikel yang dikerjasamakan dengan partner asal China itu akan rampung pada kuartal keempat tahun lalu.

Selain ekspansi, Sudiro juga berambisi untuk menghantarkan Dayaindo Mandiri Resources Indonesia (DMRI), anak usaha perseroan, untuk go public.

Namun kini Sudiro telah menghadap Illahi dengan caranya sendiri, yang hingga saat ini cara itu masih belum bisa diterima oleh teman-teman dekatnya. Selamat Jalan Pak Sudiro.(Foto:Berita Jakarta) (msb)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Achmad Aris

Editor : Martin-nonaktif

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top