Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

KRISIS ALJAZAIR: Paris-Jepang bahas penyanderaan

PARIS: Presiden Prancis Francois Hollande pada Minggu (20/01) melakukan pembicaraan per telepon dengan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe tentang krisis penyanderaan di Aljazair, kata Istana Elysee dalam satu pernyataan.Selama pembicaraan, presiden Prancis
News Editor
News Editor - Bisnis.com 21 Januari 2013  |  10:00 WIB

PARIS: Presiden Prancis Francois Hollande pada Minggu (20/01) melakukan pembicaraan per telepon dengan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe tentang krisis penyanderaan di Aljazair, kata Istana Elysee dalam satu pernyataan.

Selama pembicaraan, presiden Prancis menyatakan solidaritas penuh negaranya kepada Jepang dalam menghadapi situasi, dan menyerukan "koordinasi yang erat untuk menjamin keamanan warga kedua negara di wilayah ini."

Kedua pemimpin sepakat untuk memperkuat kerja sama antara Prancis dan Jepang mengenai isu-isu keamanan di seluruh benua Afrika dan perang melawan terorisme "yang membawa kita bersama-sama."

Menurut Istana Elysee, perdana menteri Jepang menyatakan dukungannya terhadap aksi pasukan Prancis dan Afrika di Mali, untuk perdamaian dan stabilitas di kawasan itu.

Pemerintah Jepang sedang berjuang untuk mengonfirmasi informasi warga Jepang yang disandera oleh gerilyawan yang terkait Al-Qaida di Aljazair setelah negara Afrika Utara itu mengakhiri operasi penyelamatan sandera dan mengakibatkan beberapa orang Jepang mati.

Japan Gasoline Co. (JGC), yang sangat terlibat dalam krisis sandera ini, mengatakan pada Minggu bahwa 41 staf non-Jepang dari total 78 karyawan yang ditangkap oleh gerilyawan di fasilitas gas di Aljazair telah dikonfirmasi dalam kondisi aman, tetapi 17 pekerja, termasuk 10 warga Jepang, masih belum ditemukan setelah operasi penyelamatan berakhir.

Gerilyawan Islam pada Rabu merebut fasilitas gas alam di tenggara Aljazair dan mengambil puluhan pekerja sebagai sandera, dalam upaya untuk mendesak Prancis menghentikan operasi militernya di Mali.

Setelah operasi penyelamatan, kementerian dalam negeri Aljazair menyebutkan bahwa korban tewas dari krisis penyanderaan itu berjumlah 55 orang, termasuk 23 sandera dan 32 gerilyawan, kata laporan media sebelumnya. (Antara/Bsi)


 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Newswire

Editor : Bastanul Siregar

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top