Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

AIR TANAH DISEDOT GEDUNG BERTINGKAT, Permukaan Air Laut Naik

JAKARTA—Penggunaan air tanah oleh gedung-gedung bertingkat di Jakarta dianggap memberikan kontribusi terhadap banjir karena menyebabkan kenaikan muka air laut. Perencanaan tata ruang yang tak melebihi daya dukung lingkungan dan terintegrasi perlu
- Bisnis.com 20 Januari 2013  |  12:39 WIB

JAKARTA—Penggunaan air tanah oleh gedung-gedung bertingkat di Jakarta dianggap memberikan kontribusi terhadap banjir karena menyebabkan kenaikan muka air laut. Perencanaan tata ruang yang tak melebihi daya dukung lingkungan dan terintegrasi perlu dilakukan. 

Hal itu disampaikan Edwin Husni Sutanudjaja, peneliti air tanah dari Utrecht University, Belanda dalam sebuah diskusi yang digelar Ruang Jakarta (Rujak) Center for Urban Studies. Dalam situs resmi organisasi tersebut, Edwin menuturkan, pengambilan air tanah dalam sebagai sumber air bukanlah hal yang berkelanjutan, tetapi justru digunakan untuk pembangunan mayoritas gedung di Jakarta.

"Untuk memperbaharuinya tidak membutuhkan waktu yang sedikit.  Kontribusi pengambilan air tanah terhadap kenaikan muka air laut  hampir 30%.  Bisa kita bayangkan tingkat banjir di Jakarta beberapa tahun mendatang, bila kebiasaan ini tidak coba kita imbangi dengan perbaikan?" kata Edwin seperti dalam situs Rujak hari ini, Minggu (20/01/2013). 

Dia memaparkan air tanah merupakan air yang telah terperangkap jutaan tahun lamanya dan pengambilan air tersebut bukanlah yang dapat berkelanjutan. Namun, urainya, justru mayoritas pembangunan di Jakarta menggunakan sumber air tersebut sebagai sumber utama.

Dia memaparkan banjir di Jakarta memang sudah sampai di fase yang mengkhawatirkan setiap tahunnya. Oleh karena itu, papar Edwin, diperlukan sejumlah cara untuk mengatasinya, dari penerapan prinsip arsitektur yang ramah lingkungan, hingga perencanaan tata ruang yang tidak melebihi kapasitas daya dukung lingkungan dan terintegrasi dengan baik dari hulu ke hilir.

Selain itu, dia menuturkan, banjir juga berkaitan dengan topografi Jakarta yang berada di dataran yang lebih rendah dibandingkan daerah-daerah lain di sekitarnya. Menurut Edwin, sungai-sungai di Jakarta merupakan hilir dari hulu sungai di daerah lain sekelilingnya,seperti Jawa Barat, yang sebagian terletak di dataran tinggi.

Edwin menegaskan melihat sejarahnya, Jakarta memang sudah rawan banjir dari dulu akibat letak geografisnya yang memungkinkan terjadinya peningkatan debit air sungai-sungai dari daerah hulu saat musim hujan. "Namun pada akhirnya, banjir diperparah dengan ketidakmampuan manusianya mengelola alam dan air dengan baik," pungkasnya. (sut)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Sutarno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top