Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

BANK INDONESIA Prediksi Penyaluran Kredit Tumbuh 22%

SEMARANG – Bank Indonesia memprediksi pertumbuhan penyaluran kredit di Jawa Tengah pada tahun ini akan tumbuh 21%--22%, lebih tinggi dibandingkan 2012 lalu.
- Bisnis.com 18 Januari 2013  |  16:50 WIB

SEMARANG – Bank Indonesia memprediksi pertumbuhan penyaluran kredit di Jawa Tengah pada tahun ini akan tumbuh 21%--22%, lebih tinggi dibandingkan 2012 lalu.

Joni Swastanto, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah V Jawa Tengah-DIY, mengatakan peluang pertumbuhan itu muncul karena ada beberapa proyek infrastruktur di wilyah Jawa Tengah yang akan memacu perekonomian setempat.

“Secara historis, pertumbuhan ekonomi Jawa Timur melampaui nasional, Jawa Barat sama dengan nasional dan Jawa Tengah di bawah nasional. Ada peluang tahun ini ekonomi Jawa Tengah tumbuh sedikit lebih tinggi hingga hampir sama dengan nasional,” ujarnya kepada Bisnis, Jumat (18/1/2013).

Atas dasar itu, lanjutnya, penyaluran kredit di Jawa Tengah pada tahun ini diprediksi bisa tumbuh mencapai 21%--22%, dibandingkan dengan posisi 2012 yang berkisar di 20%--21%.

Pada tahun ini ada beberapa proyek infrastruktur yang sedang dibangun dan diselesaikan di wilayah Jawa Tengah, a.l. pembangunan rel ganda kereta api, pembangunan jalan tol Ungaran-Bawen, yang merupakan bagian dari proyek tol Semarang—Solo dan perluasan Bandara Ahmad Yani, Semarang.

Infrastruktur baru tersebut akan menjadi andalan guna mengikis persoalan akses dan kemacetan yang menjadi kendala dalam transportasi serta distribusi barang dan jasa.

“Selain itu, pada 2013 juga ada program Visit Jawa Tengah 2013. Kalau semua proyek dan program selesai kami yakin ekonomi dan perbankan akan terdorong naik,” ujarnya.

Peneliti Ekonomi BI Jateng-DIY Indra Kuspriyadi menilai penyaluran kredit masih dapat tumbuh lebih tinggi lagi yang tercermin dari rasio kredit terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) baru dikisaran 51%, lebih rendah dari 2011 yang tercatat 66%.

“Sebagai wilayah yang masih berkembang Jateng masih membutuhkan banyak dukungan kredit. Bagi perbankan ini merupakan potensi untuk tumbuh,” ujarnya.

Namun, perbankan di Jawa Tengah menghadapi kendala likuiditas karena rasio intermediasi (loan to deposit ratio/LDR) telah menembus 101%. Posisi tersebut jauh lebih tinggi dari rasio intermediasi nasional sebesar 83%.

Meski demikian, Indra memandang tingginya LDR perbankan Jateng adalah suatu hal yang wajar  karena sebagian keuntungan perusahaan  tidak disimpan di wilayah ini, namun ditarik oleh kantor pusat yang beroperasi di Jakarta.

“Jateng  merupakan daerah yang banyak pabrik dan kantor yang pusatnya tidak di sini. Ini mengakibatkan sebagian dana tercatat di wilayah lain, seperti Jakarta,” ujarnya.

Hingga November 2012 penyaluran kredit di wilayah Jateng mencapai Rp156 triliun pada akhir November 2012, meningkat 21,18% dibandingkan dengan setahun lalu.

Bila dibandingkan dengan akhir 2011, penyaluran kredit di Jateng selama 11 bulan (year to date) telah meningkat 18,5%. Joni optimis pertumbuhan kredit di Jateng selama 2012 akan mencapai 20% bila melihat kinerja tersebut.

Sementara itu, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) di Jateng lebih rendah dibandingkan dengan penyaluran kredit. Hingga akhir November, jumlah DPK yang dikelola Rp153,54 triliun naik sekitar 17,68% dari setahun lalu.

Adapun aset perbankan Jateng mencapai Rp210,51 triliun dengan rasio kredit bermasalah (non perfoming loan/NPL) 2,58%. NPL tersebut relatif stabil selama 2012. (dot)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Endot Brilliantono

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top