Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

KALEIDOSKOP 2012: KEUANGAN, masih berpusat di masih Jakarta

DALAM beberapa hal, bicara tentang Indonesia, terkesan hanya bicara tentang Jakarta dan Pulau Jawa. Nyatanya, Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki wilayah dengan panjang mencapai 5.200 kilometer dan lebar 1.870 kilometer,
Errol Poluan
Errol Poluan - Bisnis.com 31 Desember 2012  |  13:42 WIB

DALAM beberapa hal, bicara tentang Indonesia, terkesan hanya bicara tentang Jakarta dan Pulau Jawa. Nyatanya, Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki wilayah dengan panjang mencapai 5.200 kilometer dan lebar 1.870 kilometer, serta terdiri dari banyak pulau besar dan kecil.Mengingat 80% wilayah Indonesia adalah laut, cerita tentang wilayah terpencil dengan infrastruktur minim sudah sering terdengar. Jangankan bicara tentang akses perbankan, sebagian besar wilayah terpencil itu bahkan sulit untuk dikunjungi karena miskin infrastruktur.Alhasil, pembangunan ekonominya berjalan lambat dan pelaku industri perbankan pastinya ogah melirik daerah-daerah tersebut.  Tak heran jika dari tahun ke tahun, mayoritas dana yang masuk ke sistem perbankan berasal dari berbagai daerah yang berada tak jauh dari jangkauan Ibu Kota Jakarta.Pengadaan infrastruktur dan kegiatan ekonomi yang tidak merata, yang hanya terkonsentrasi di Pulau Jawa, tercermin pada penye­bar­an penduduk. Berdasarkan sensus penduduk yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), hampir 60% penduduk berdiam di Pulau Jawa yang luasnya 129.438,28 kilometer persegi atau hanya 7% terhadap total wilayah Indonesia. Sebaliknya, Kalimantan yang merupakan pulau terbesar dibandingkan dengan pulau lainnya, hanya dihuni oleh 5,8% dari total jumlah penduduk.Dalam acara pertemuan tahunan perbankan yang diadakan oleh Bank Indonesia pada 23 November, Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution menyinggung masalah ini. Dalam pidatonya di hadapan para bankir, dia menyebutkan perbankan perlu didorong berkontribusi dalam pembangunan ekonomi di wilayah yang selama ini kurang terlayani (inklusif). Hal itu akan diterjemahkan dalam bentuk pengaturan kembali mekanisme pembukaan jaringan kantor bank.Bank sentral akan menerapkan mekanisme insentif dan disinsentif, melalui penggunaan alokasi modal inti dan zonasi wilayah, selain tentunya persyaratan tingkat kesehatan. Artinya, bank tidak lagi bisa ‘seenak­nya’ menentukan di wilayah mana mereka akan menambah kantornya. Semua akan diatur oleh Bank Indonesia, mengacu pada upaya pemerataan akses perbankan di seluruh wilayah Indonesia.Berdasarkan data Bank Indonesia hingga akhir Oktober, sebanyak 49,66% dari total dana pihak ketiga (DPK) yang dihimpun oleh bank umum secara nasional berasal dari Provinsi DKI Jakarta.  Diikuti oleh Jawa Timur dengan pangsa pasar 9,15%, Jawa Barat 8,06%, dan Jawa Tengah 4,57%. Tak heran jika hampir 50% dari total 3.412 kantor cabang perbankan secara nasional, berada di Pulau Jawa.Bukan hanya dalam hal pengum­pulan dana, penyebaran kredit pun Jakarta menjadi juaranya. Sebanyak 48,37% dari total Rp2.585,35 triliun kredit yang diberikan oleh bank umum per akhir Oktober 2012, disalurkan di Jakarta. Disusul oleh Jawa Timur 8,82%, Jawa Barat 8,07%, dan Jawa Tengah 5,49%.Tak hanya layanan perbankan konvensional, layanan perbankan syariah di Jakarta juga berkembang jauh lebih cepat di Jakarta. Sebanyak 40% dari total Rp135,58 triliun pembiayaan perbankan syariah disalurkan di Jakarta, disusul Jawa Barat 11,5%, Jawa Timur 8,57%, dan Jawa Tengah 8,57%.Kinerja kawasanUNTUK melihat perkembangan perekonomian dan layanan perbankan, Bank Indonesia membagi Indonesia dalam empat kawasan, yakni Sumatra, Jakarta, Jawa, dan kawasan timur Indonesia (KTI). Kawasan Sumatra terdiri dari Provinsi Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Selatan, Bengkulu, Jambi, Lampung, Sumatra Barat, Riau, Bangka Belitung, dan Kepulauan Riau. Kawasan Jawa terdiri dari Provinsi Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan D.I Yogyakarta. Adapun, KTI terdiri dari Provinsi Bali, NTB, dan NTT, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat.Bank Indonesia menilai perkembangan perbankan di Sumatra menunjukkan perkembangan yang positif dengan meningkatnya pertumbuhan aset, kredit, maupun DPK. Aset bank umum di Sumatra per kuartal III/2012 mencapai Rp486,9 triliun atau tumbuh 18,0% (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada kuartal sebelumnya 16,4% (yoy). Peningkatan pertumbuhan aset didorong oleh upaya perbankan untuk ekspansi usahanya mengingat wilayah Sumatra dijadikan fokus pendanaan (financing), sehingga dibutuhkan perluasan usaha untuk menjangkau berbagai daerah potensial.DPK yang dihimpun oleh bank umum di wilayah Sumatra per kuartal III tahun ini tumbuh 14,8% (yoy), naik tipis dibandingkan dengan 13,6% pada kuartal sebelumnya. Peningkatan bersumber dari meningkatnya simpanan pelaku usaha maupun  dana pemerintah daerah dalam bentuk giro dari semula tumbuh 13,6% (yoy) menjadi 14,8% (yoy).Dalam hal nilai, Jakarta memang masih berada di urutan teratas. Nilai perolehan DPK dan penyaluran kredit perbankan yang terbesar ada di Jakarta. Namun, bicara soal pertumbuhan, DKI Jakarta jelas kalah dibandingkan dengan daerah-daerah lain yang tengah jadi incaran baru industri perbankan. Pertumbuhan DPK bank umum di Jakarta ‘hanya’ 17,92% menjadi Rp1.524,85 triliun per akhir Oktober tahun ini dibandingkan dengan Rp1.293,13 triliun per akhir Oktober tahun lalu.Bandingkan dengan DPK yang diperoleh perbankan di Kepulauan Riau yang melonjak 175% pada periode yang sama. Namun, tentunya dengan perolehan DPK yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan dana pihak ketiga yang dihimpun bank umum di Jakarta.Di wilayah Jawa, fungsi intermediasi perbankan tumbuh cukup baik, dengan risiko kredit yang tetap terjaga rendah. Hal tersebut tercermin dari pertumbuhan beberapa indikator utama kinerja perbankan di Jawa seperti aset, penyaluran kredit, dan penghimpunan dana pihak ketiga yang tetap meningkat. Performa kredit yang disalurkan yang tercermin dari rasio kredit bermasalah (NPL) di wilayah Jawa juga masih dapat dijaga di bawah 5%.Adapun, kinerja perbankan di KTI menunjukkan kinerja yang positif dengan perkembangan seluruh indikator yang cukup menggembirakan. Intermedasi perbankan semakin meningkat, menunjukkan peran perbankan yang semakin besar dalam perekonomian KTI, yang diiringi dengan kualitas kredit yang masih terjaga di level rendah. Bank Indo­­nesia mencatat penyaluran kredit di KTI masih terus tumbuh tinggi, dengan pertumbuhan pada kuartal III/2012 yang mencapai 29,35% (yoy), hanya sedikit melambat dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang tumbuh 30,63% (yoy).Mengingat Jakarta adalah pusat pemerintah dan kegiatan bisnis di negara ini, posisinya sebagai pemberi DPK terbesar untuk perbankan, sekaligus sebagai penerima kredit terbesar mungkin sulit tergantikan. Namun, persaingan yang kian ketat di Jakarta dan Pulau Jawa, ditambah dorongan dari bank sentral, akan membuat perbankan melebarkan ‘sayapnya’ ke daerah lain. (Bsi) ([email protected])


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Puput Jumantirawan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top