KALEIDOSKOP 2012: EKONOMI GLOBAL, masih galau

JAKARTA: Eropa masih bergolak, nasib AS masih bergantung pada debat soal anggaran, sementara negara-negara lain nya mulai terseok ke dalam pusaran krisis.
Muhammad Fazrin | 31 Desember 2012 08:03 WIB

JAKARTA: Eropa masih bergolak, nasib AS masih bergantung pada debat soal anggaran, sementara negara-negara lain nya mulai terseok ke dalam pusaran krisis.

 
Pertumbuhan ekonomi dunia melambat sepanjang 2012. Pada 2010, saat krisis utang Eropa dimulai dari Yunani, dunia masih mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,1% dan melambat hingga 3,8% pada tahun berikutnya.
 
Adapun sepanjang 2012, Dana Moneter Internasional (IMF) dalam laporan World Economic Outlook keluaran Oktober 2012 memproyeksikan perekonomian dunia hanya tumbuh 3,3% dan baru akan berbalik menguat (rebound) pada 2013 dengan kenaikan sebesar 3,6%.
 
AS dan Eropa masih menjadi masalah utama dalam perekonomian dunia. Namun sepanjang 2012, perekonomian zona euro yang paling berperan penting dalam perkembangan krisis global.
 
KONDISI EKONOMI
 
Sepanjang 2010 dan 2011, Yunani, Irlandia, dan Portugal ambruk dan terpaksa harus dibailout.
Memasuki 2012, Siprus, Spanyol, dan Italia mulai goyah.
 
Kebijakan pengetatan dilakukan di seluruh zona euro, sebagaimana kesepakatan yang diambil dalam KTT UE pada Januari 2012, untuk mengurangi beban utang dan menutupi defisit anggaran.
 
Kondisi ini membuat fiskal tidak dapat diharapkan untuk menopang kegiatan ekonomi dan bisnis, sehingga zona euro kembali terjerembap ke dalam jurang resesi tahun ini dan tingkat pengangguran mencapai level tertingginya yakni 11% pada pertengahan 2012.
 
Pada Agustus 2012 sentimen ekonomi di zona euro anjlok hingga level terendah dalam 3 tahun. Hal ini berarti konsumen lebih banyak menabung ketimbang belanja, sehingga permintaan berkurang.
 
Lemahnya permintaan berujung kepada ditundanya ekspansi bisnis, sehingga angka pengangguran pun melonjak tajam. Pada pertengahan 2012, tingkat pengangguran zona euro mencapai level tertingginya, yakni 11%.
 
Memasuki kuartal terakhir 2012, tingkat pengangguran di Spanyol menembus 25% dan melampaui Yunani yang mencapai 26%. Kondisi zona euro ikut menekan perekonomian UE yang menggerakkan lebih dari 20% perekonomian dunia.
 
Permintaan Eropa akan ekspor berkurang, sehingga menekan harga komoditas dunia, menyulitkan pemulihan ekonomi di AS, dan menghambat laju pertumbuhan ekonomi di negara-negara Asia, Afrika, dan Amerika Latin.
 
Setelah UE, AS merupakan perekonomian terbesar di dunia dengan kontribusi terhadap PDB global nyaris 20%. AS yang sempat ambruk dalam krisis finansial pada 2008, berangsur pulih dengan menguatnya laju pertumbuhan dan turunnya tingkat pengangguran.
 
Pertumbuhan ekonomi AS belum mencapai tingkat normalnya yakni 3% per tahun dan tingkat pengangguran AS masih jauh di atas level yang bisa ditoleransi yakni 4%-5%.
 
IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi AS rebound menjadi 2,2% pada 2012. Adapun tingkat pengangguran kembali turun hingga di bawah 8% pada September 2012 yakni 7,8%.
 
Namun, AS yang perekonomiannya belum pulih benar, masih berpotensi kembali menekan perekonomian dunia dengan ancaman jurang fiskal (fiscal cliff) pada Januari 2013, jika tidak ada keputusan baru terkait dengan anggaran dari pemerintah dan Kongres. 
 
Sampai Minggu (30/12/2012) siang, Gedung Putih dan Kongres belum kunjung mencapai kata sepakat.
 
 
Penghematan fiskal hingga US$600 miliar secara serentak dan mendadak lewat kenaikan pajak dan pemangkasan anggaran ini, menurut badan anggaran parlemen AS, akan kembali menenggelamkan negara de ngan perekonomian terbesar di dunia itu ke dalam resesi.
 
Di seberang Samudera Pasifik, Jepang juga belum pulih dari bencana gempa dan tsunami pada 2011. Upaya pemulihan semakin berat mengingat struktur perekonomian negara terbesar ketiga di dunia itu sudah memasuki titik jenuh.
 
Sementara itu, Eropa yang terlilit utang serta AS dan Jepang yang belum pulih membuat harapan digantungkan kepada kekuatan ekonomi Asia, yakni China dan India, untuk menjadi penggerak baru dalam perekonomian global.
 
Sayangnya, kedua negara ini juga tidak dapat diharapkan. China, yang memiliki perekonomian terbesar kedua di dunia dan pertama di Asia terus mengalami perlambatan ekonomi hingga kuartal ketiga 2012 dengan pertumbuhan PDB year-on-year hanya 7,4%.
 
China yang mencatatkan pertumbuhan PDB hingga 10% dan 9% pada 2010 dan 2011, diperkirakan hanya membukukan 7,8% pada 2012 karena tertekan oleh berkurangnya permintaan ekspor dan kebijakan pemerintah yang membatasi penjualan rumah.
 
Namun, peningkatan anggaran belanja infrastruktur oleh pemerintah untuk daerah-daerah pedalaman dinilai dapat menggenjot permintaan domestik, sehingga membantu menyeimbangkan mesin pertumbuhan ekonomi, yang saat ini berorientasi kepada ekspor.
 
Untungnya, perlambatan ekonomi China tidak mencapai 50% dan berakhir dengan soft landing.
Memasuki kuartal IV/2012, ekonomi China diprediksi akan rebound, meskipun tidak akan sepesat
sebelumnya, yang selalu bergerak di kisaran 9%-10% per tahun.
 
Di sisi lain, kondisi India tampaknya tidak begitu bagus. IMF memproyeksikan India hanya akan membukukan pertumbuhan sebesar 4,9% pada tahun ini. Padahal, sejumlah ekonom pada awal tahun memprediksi India akan tumbuh minimal 5%-6%.
 
Pada 2010, India membukukan pertumbuhan ekonomi sebesar 10,1%, sedikit di bawah China. Namun, pada 2011 pertumbuhan PDB India melambat lebih tajam dari China yakni hanya 6,8%.
 
Sementara itu, pemangkasan subsidi energi oleh pemerintah pada tahun ini membuat laju inflasi terus meningkat tajam hingga bergerak pada kisaran 9%-10%, tertinggi di antara negara-negara BRIC (Brasil, Rusia, India, China).
 
Meskipun demikian, perekonomian terbesar ketiga di Asia ini diperkirakan membaik pada tahun depan yakni 6% karena didorong oleh pembukaan sejumlah sektor pasar dan industri kepada investor asing.
 
PEMERINTAHAN BARU
 
Upaya pemerintah di seluruh dunia dinilai tidak cukup untuk mengatasi perlambatan ekonomi pada 2012. Namun, seiring dengan diadakan pergantian pemerintahan di sepanjang tahun ini, kebijakan yang diambil diprediksi akan lebih akomodatif untuk menggenjot pertumbuhan.
 
Pada pertengahan tahun ini, upaya penyelesaian krisis utang sempat dihantui oleh terpilihnya Francois Hollande sebagai Presiden Prancis dari Partai Sosialis dan alotnya proses pemilihan umum di Yunani.
 
Hollande tidak seperti pendahulunya, Nicolas Sarkozy, yang kompak dengan Kanselir Jerman Angela Merkel dalam menyerukan pengetatan anggaran di zona euro untuk mengatasi krisis utang.
 
Sementara itu, di Yunani, pemilu legislatif pada Mei 2012 tidak berhasil membentuk pemerintahan. Meskipun tidak mayoritas, perolehan suara Partai Syriza cukup signifikan, sehingga sempat dikhawatirkan akan membuat Yunani terusir dari zona euro.
 
Partai politik sayap kiri yang dipimpin Alexis Tsipras itu menolak pengetatan anggaran yang diamanatkan dalam paket bailout dari Eropa. Pemilu terpaksa harus diulang pada Juni 2012 dan kembali dimenangkan oleh Partai Demokrasi Baru pimpinan Antonis Samaras.
 
Pemilu yang paling menyita perhatian pada tahun ini tentu saja pemilihan presiden AS yang mempertemukan kandidat petahana, Barack Hussein Obama dari Partai Demokrat, dan kandidat penantang, Mitt Romney dari Partai Republik.
 
Obama akhirnya menang tipis. Pemilu lainnya yang juga penting bagi masa depan ekonomi dunia adalah pemilu Jepang dan Korea Selatan pada De sem ber 2012. 
 
Di Negeri Sakura, Partai Demokratik Liberal yang mengusung mantan perdana menteri Shinzo Abe
menang. 
 
 
Abe menjanjikan stimulus besar-besaran untuk menggenjot perekonomian dan mencapai target inflasi 2%, lebih tinggi dari yang ditetapkan oleh Perdana Menteri Yoshihiko Noda yakni 1%. Abe juga mendesak Bank of Japan lebih agresif dengan kebijakan moneternya.
 
Sementara itu, Park Geung Hye terpilih sebagai presiden wanita pertama di Negeri Gingseng. Park berjanji membantu usaha kecil menengah bersaing dengan konglomerat seperti Samsung dan Hyundai untuk menggenjot kinerja ekspor yang tertekan oleh perlambatan global.
 
China juga mengalami transisi pemerintahan, meski tidak lewat pemilu. Partai Komunis yang berkuasa memulai Kongres perdasawarsanya pada tahun ini untuk menunjuk pengurus dan petinggi partai yang baru, yang juga akan menempati pemerintahan mulai 2013.
 
Presiden Republik Rakyat China (RRC) Hu Jintao diperkirakan akan digantikan oleh wakilnya, Xi Jinping, yang kini telah dilantik sebagai Sekretaris Jenderal Partai Komunis China.
 
Menurut Andry Asmoro, Ekonom Senior Bank Mandiri, rebound perekonomian dunia pada 2013 memang turut didorong oleh munculnya pemerintahan baru dari pemilu atau transisi sepanjang 2012.
 
“Setiap pemerintahan yang baru akan berupaya meningkatkan perekonomian negaranya,” katanya.
 
Namun, menurutnya, kebijakan moneter yang lebih agresif di saat terjadi pengetatan fiskal merupakan faktor utama yang menggenjot perekonomian dunia. Banyak bank sentral di berbagai belahan dunia telah memangkas suku bunga untuk menopang kredit.
 
Pada Januari 2012, the Federal Reserve AS menegaskan akan mempertahankan suku bunga acuan tetap rendah dan nyaris nol hingga 2014. 
 
Pada 6 Bulan berselang ECB memangkas suku bunga acuannya dari 1% menjadi 0,75%. Pada September 2012, the Fed kembali mengejutkan pasar dengan melanjutkan program perpanjangan tenor SUN miliknya, yang bernama Operation Twist, dan meluncurkan quantitative easing tahap tiga (QE 3).
 
SKANDAL PERBANKAN
 
Ekonomi dunia pada tahun ini juga diwarnai dengan skandal perbankan.
 
Ketidakdisiplinan perbankan yang berujung kepada krisis moneter tersebut membuat regulator perbankan AS dan Inggris menerapkan kebijakan makroprudensial yang lebih ketat. 
 
Alhasil, sejumlah skandal perbankan dunia terungkap lewat investigasi yang lebih awas. Tahun 2012 bukanlah tahun yang ramah bagi perekonomian dan perbankan dunia. 
 
Pada saat yang sama, 2012 menjadi momentum pembenahan melalui koordinasi fiskal, optimalisasi kebijakan moneter, dan peningkatan makroprudensial di seluruh dunia.
 
Upaya-upaya yang dilakukan sepanjang 2012 membuat pelaku ekonomi dunia dapat menatap 2013 dengan lebih optimistis.
 
Namun, masih ada sejumlah ancaman menanti, termasuk fiscal cliff, yang sepertinya menjadi tantangan pertama dan utama dalam ekonomi.   (ra)
 
 
 

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Basilius Triharyanto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup