HARI IBU: PDI-P Gelar Kegiatan Sosial Dipusatkan Di Bogor

JAKARTA-Peringatan Hari Ibu 22 Desember merupakan momentum yang tepat untuk merefleksi dan mengapresiasi pentingnya peran seorang ibu dalam kehidupan mulai dari komunitas keluarga, masyarakat hingga bangsa dan negara.
nurul | 22 Desember 2012 11:39 WIB

JAKARTA-Peringatan Hari Ibu 22 Desember merupakan momentum yang tepat untuk merefleksi dan mengapresiasi pentingnya peran seorang ibu dalam kehidupan mulai dari komunitas keluarga, masyarakat hingga bangsa dan negara.

 

“Bukan sekedar memperingati tapi kita perlu melihat konteks sejarah mengapa Hari Ibu diperingati secara nasional,” kata Wiryanti Sukamdani, Ketua Panitia Peringatan Hari Ibu yang diselenggarakan oleh DPP PDI Perjuangan hari ini (22/12).

 

Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Anak DPP PDI Perjuangan ini mengatakan PDI Perjuangan mengisi Hari Ibu dengan serangkaian kegiatan bakti sosial yang dipusatkan di Kebun Raya Bogor.Wanita yang akrab dipanggil Yanti Sukamdani ini mengatakan setiap tanggal 22 Desember yang diperingati Hari Ibu menjadi momentum untuk merefleksi dan mengapresiasi betapa pentingnya peran seorang ibu.

 

"Ibu punya peran penting dalam komunitas mulai dari keluarga, masyarakat maupun bangsa dan negara. Bahkan dalam konteks yang lebih universal yakni memajukan peradaban dan kemanusiaan pada umumnya,” katanya.

 

Oleh karena itu, paparnya, memperingati Hari Ibu berarti menegaskan relevansi perjuangan kaum Ibu dengan program kerja para kader PDI perjuangan, khususnya  di bidang pemberdayaan perempuan.

 

Menurutnya, hal penting adalah melihat konteks sejarah mengapa Hari Ibu diperingati secara nasional. Masyarakat Indonesia patut berterima kasih kepada Presiden Soekarno karena telah menetapkanmelalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959 bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu dan dirayakan secara nasional hingga saat ini.

"Presiden Soekarno sendiri sejak awal menyebut Kongres Perempuan pada 22 Desemberadalah Kongres Ibu. Oleh karena itu, kita harus meletakkan kembali momentum ini dalam konteks sejarah dan sebagai kader partai sekaligus kader bangsa, kita tidak boleh melupakan sejarah.”

 

"Bung Karno kerap berpesan agar kita tidak boleh sekali-sekali melupakan sejarah. Jangan menjadi bangsa yang melupakan sejarah,” tambahnya.

 

Pada 22 Desember 1928 atau dua bulan sesudah Sumpah Pemuda, organisasi-organisasi perempuan mengadakan kongres pertamanya di Yogyakarta dan membentuk Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani).

 

"Hingga kini kita memperingatinya sebagai Hari Ibu, karena itulah kaum perempuan Indonesia terutama kader PDI harus memahami sejarah ini dan bisa lebih berperan aktif dalam memberdayakan perempuan,” tegasnya.(yus)

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : David Eka Issetiabudi

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup