PORTOFOLIO PEMBIAYAAN: Segmen anjak piutang berfluktuasi

JAKARTA--Portofolio pembiayaan segmen anjak piutang berfluktuasi sejak awal tahun dan cenderung stagnan hingga Oktober 2012.
Sutan Eries Adlin
Sutan Eries Adlin - Bisnis.com 17 Desember 2012  |  21:15 WIB

JAKARTA--Portofolio pembiayaan segmen anjak piutang berfluktuasi sejak awal tahun dan cenderung stagnan hingga Oktober 2012.

Berdasarkan data Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK), portofolio pembiayaan anjak piutang terus berfluktuasi sejak awal tahun. Hal ini berbeda dengan segmen pembiayaan konsumen dan sewa guna usaha yang terus menanjak sejak awal tahun.

Portofolio anjak piutang pada awal tahun tercatat Rp3,88 triliun dan kemudian turun pada Februari menjadi Rp3,82 triliun. Posisi Februari sekaligus merupakan level terendah dalam pembiayaan anjak piutang selama 2012.

Adapun posisi tertinggi anjak piutang terjadi pada Agustus yang bertepatan dengan momentum Hari Raya Idul Fitri. Paska itu, portofolio anjak piutang kembali turun hingga menyentuh Rp4,07 triliun pada Oktober 2012.

Bila dibandingkan dengan akhir Desember 2011, pertumbuhan portofolio anjak piutang hingga Oktober hanya 4,09%, jauh lebih rendah dibandingkan dengan industri multifinance  yang mencatatkan ekspansi pembiayaan 21,66%.

Padahal selama 2011, segmen anjak piutang sempat membukukan pertumbuhan 70,74%, jauh di atas kinerja industri multifinance secara keseluruhan.

Anjak piutang atau factoring merupakan transaksi pembiayaan dalam bentuk membeli piutang atau tagihan dari perusahaan dengan memberikan suatu diskon.

Anjak piutang melibatkan tiga pihak, yakni penjual piutang, debitur serta multifinance yang bertindak sebagai pihak yang membiayai.

Dalam anjak piutang, multifinance membeli piutang dari perusahaan yang kemudian akan ditagih kepada debitur apabila jatuh tempo.

Wiwie Kurnia, Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI), mengatakan volume anjak piutang masih sedikit sehingga kinerjanya cenderung tidak mengikuti tren ekonomi. “Volume anjak piutang masih sedikir sehingga kalau ada transaksi, fluktuasinya tidak mengikuti tren,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (17/12).

Kecilnya volume bisnis dari anjak piutang, lanjutnya, disebabkan karena banyak multifinance yang tidak tertarik mengembangkan segmen ini. Bahkan, kata Wiwie, hanya dua sampai tiga perusahaan yang serius dalam segmen anjak piutang.

Hingga akhir Oktober 2012, pangsa pasar anjak piutang dari keseluruhan bisnis multifinance hanya 1,36% dan merupakan terkecil kedua setelah pembiayaan konsumen dan sewa guna usaha. Namun, segmen kartu kredit yang memiliki pangsa pasar terkecil memang sudah tidak berkembang, paska GE Finance Indonesia diakuisisi oleh Bank Permata.

Wiwie mengatakan ada beberapa faktor yang menyebabkan anjak piutang sulit berkembang. Salah satunya adalah persaingan dengan perbankan. “Banyak debitur yang mendapatkan modal kerja dari bank,” ujarnya.(msb)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Donald Banjarnahor

Editor : Novita Sari Simamora

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top