Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

MUHAIMIN ISKANDAR: Pemerintah berjuang bebaskan Satinah dari hukuman mati

JAKARTA-- Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) Muhaimin Iskandar mengatakan pemerintah akan tetap berusaha sekuat tenaga untuk membebaskan tenaga kerja Indonesia (TKI) Satinah yang dijatuhi hukuman mati di Arab Saudi."Pemerintah
News Editor
News Editor - Bisnis.com 17 Desember 2012  |  17:00 WIB

JAKARTA-- Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) Muhaimin Iskandar mengatakan pemerintah akan tetap berusaha sekuat tenaga untuk membebaskan tenaga kerja Indonesia (TKI) Satinah yang dijatuhi hukuman mati di Arab Saudi."Pemerintah berusaha kuat, semaksimal mungkin, terutama melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) karena Kemlu yang berwenang untuk melakukan pendekatan ke keluarga korban, agar sesuai dengan harapan kita," kata Muhaimin di Jakarta, Senin (17/12/2012).Satinah merupakan TKI asal Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, yang divonis membunuh majikan perempuannya, Nura al-Gharib di wilayah Gaseem pada awal 2009, karena sering dianiaya dan diperlakukan tak senonoh oleh sang majikan dan keluarganya.Tidak hanya membunuh, Satinah juga menghadapi tuduhan pencurian uang majikan sebesar 37.970 Real Saudi yang diakui oleh yang bersangkutan sebelum melarikan diri ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI).Melalui vonis pengadilan syariah tingkat pertama hingga kasasi (2010), Satinah diganjar hukuman mati (qishash) karena terbukti melakukan pembunuhan berencana.Dalam upaya mediasi untuk perdamaian dan pemaafan dari keluarga korban, tercapai upaya pemaafan dengan membayar diyat 500 ribu Real Saudi atau sekitar Rp1,25 miliar sebagai pengganti hukuman qishash.Namun, pihak keluarga kemudian menaikkan besaran diyat tersebut menjadi 10 juta Real Saudi atau Rp25 miliar, sehingga persoalan ini melibatkan Satuan Tugas (Satgas) Penanganan WNI/TKI Terancam Hukuman Mati di Luar.Muhaimin menyebut permasalahan besaran diyat itu tidak perlu dibesar-besarkan karena memang merupakan salah satu hukum yang dimiliki Arab Saudi."Tentang besarannya tidak perlu diperdebatkan, yang penting pemerintah akan berusaha sekuat tenaga, karena kalau diperdebatkan tidak akan ketemu. Harapan saya agar tidak ada yang memanfaatkan peristiwa diyat ini, karena diyat sendiri memiliki hukum unik di Saudi Arabia," ujarnya.Selain menggunakan dana yang dimiliki pemerintah, Menakertrans menyatakan akan melakukan pendekatan terhadap pihak swasta untuk ikut membantu dalam pembayaran diyat tersebut seperti dari pihak asuransi TKI."Dari segi UU keasuransian itu memang diluar kewajiban. Tapi kita harap dengan bantuan CSR (corporate social responsibility) atau bantuan-bantuan khusus diluar kewajiban dan sistem keasuransian, bisa dibantu," kata Muhaimin.(


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : R. Fitriana & Martin Sihombing

Editor : Novita Sari Simamora

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top