Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

GIZI PENDUDUK: 40% anak Indonesia tidak terbiasa sarapan

BOGOR: Pakar gizi Institut Pertanian Bogor menyebutkan sekitar 20 hingga 40 persen anak-anak Indonesia tidak terbiasa untuk sarapan."Padahal sarapan ini sangat penting dalam mencetak sumber daya manusia yang berkualitas," kata Prof Dr Ir Hadinsyah,
News Editor
News Editor - Bisnis.com 16 Desember 2012  |  23:45 WIB

BOGOR: Pakar gizi Institut Pertanian Bogor menyebutkan sekitar 20 hingga 40 persen anak-anak Indonesia tidak terbiasa untuk sarapan."Padahal sarapan ini sangat penting dalam mencetak sumber daya manusia yang berkualitas," kata Prof Dr Ir Hadinsyah, MS dalam acara Kampanye Sarapan Sehat di Kampus IPB Dramaga, Kabupaten Bogor, Minggu.Prof Hadinsyah menyebutkan berdasarkan hasil Riskesdas 2010 kontribusi energi dan zat gizi sarapan anak Indonesia usia 2-12 tahun dibawah 25 persen dari kebutuhan Angka Kebutuhan Gizi (AKG).Sarapan sehat setidaknya menyumbang 25 persen asupan gizi. Selain itu, rata-rata 50 persen anak yang mempunyai kebiasaan sarapan sehat sebelum berangkat sekolah.Sementara itu, berdasarkan referensi dari hasil survey yang dilakukan Hardinsyah dan Aris pada 2012, pada 35.000 anak usia sekolah (6-12 tahun) diketahui 26,1 persen anak hanya sarapan dengan minuman (air, teh dan susu."Hasil survey lainnya 44,6 persen anak sarapan dengan kualitas rendah atau jumlah konsumsi energi kurang dari 15 persen AKG," katanya.Lebih lanjut Prof Handinsyah mengemukakan, kualitas kesehatan dan perilaku makan anak sekolah secara nasional masih rendah.Hal ini nampak dari kualitas sarapan anak Indonesia yang masih sangat rendah."Berdasarkan hasil peneltian, anak usai sekolah dengan status gizi kurang apabila tidak sarapan akan terjadi penurunan kemampuan kognitif atau daya tangkap," katanya.Menurut Prof Herdinsyah, saraan tersebut pentng sebagai pilar gizi seimbang, sesuai dengan amanat Undang-Undang nomo 36 tahun 2009 tentang kesehatan.Dalam undang-undang tersebut menyebutkan, salah satu upaya perbaikan gizi masyarakat baik perorangan ataupun kelompok adalah dengan gizi seimbang.Di dalam Undang-Undang dijelaskan gizi seimbang adalah asuapan makanan minuman yang memenuhi kebutuhan gizi sehingga tercegah dari gizi kurang dan gizi lebih."Indikatornya sederhananya gampang, liat orang itu kekurangan atau lebih gizi," katanya.Tingkat kebiasaan sarapan di anak-anak masih cukup rendah dibanding orang pria dan wanita dewasa yakni 18 persen.Pengaruh tidak sarapan pada anak, sarapan berfungsi mengatur gula darah untuk anak-anak sejak berpuasa dari tidur malam hari."Gula darah sumber energi otak bergerak dan beraktifitas. Jika gula darah kurang, gangguan belajar atau kognitif. Jika ditanya jadi hang, nilai ujian jadi rendah. Yang ke dua untuk stamina. Sarapan menyiapkan stamina anak saat berolahraga," katanya.Menurut Prof Hardinsyah, anak yang tidak sarapan cenderung kekurangan gizi dan kebanyakan itu dialami oleh anak-anak dari kalangan menengah ke bawah.Sementara itu, anak-anak dari lapisan atas, cenderung gemuk karena sifat rakus mereka dilampiaskan untuk jajan."Kebiasaan dan kecukupan sarapan di masyarakat menjadi tanggungjawab pemerintah. Dulu di era Soeharto ada Program Makanan Tambahan bagi anak sekolah (PMTAS) tahun 1998. Yang membiayai sarapan untuk masyarakat kelas bawah, tapi program kini tidak jalan seiring bergantinya pimpinan," ujarnya.Prof Hadinsyah menambahkan, perlu menghidupkan program tersebut guna mendorong tumbuhnya kebiasaan sarapan masyarakat Indonesia guna terciptanya sumber daya manusia yang produktif. (Antara/Bsi)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Newswire

Editor : Puput Jumantirawan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top