Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

IMPOR DAGING : Daging Lokal Mahal, Pengusaha Bakso Langsung Impor

SEMARANG – Para pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Pedagang Mie dan Bakso Indonesia (Apmiso) akhirnya memanfaatkan daging sapi impor guna menyiasati tingginya harga daging sapi lokal agar terhindar dari kebangkrutan.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 11 Desember 2012  |  22:05 WIB

SEMARANG – Para pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Pedagang Mie dan Bakso Indonesia (Apmiso) akhirnya memanfaatkan daging sapi impor guna menyiasati tingginya harga daging sapi lokal agar terhindar dari kebangkrutan.

Ketua Asosiasi Pedagang Mie dan Bakso Indonesia (Apmiso) Kota Semarang Edi Suwarno mengatakan harga daging sapi lokal di pasaran saat ini yang tak kunjung turun dan cenderung naik mengancam keberlangsungan usaha pengusaha bakso menuju kebangkrutan.

“Saat ini harga daging sapi lokal di pasaran sudah mencapai Rp85.000/kg. Dan kalau memaksakan menggunakan daging lokal yang harganya terus melambung, tidak mungkin, karena kami pasti bangkrut,” ujarnya, Selasa (11/12/2012).

Menurutnya solusi terbaik yang bisa dilakukan adalah mengimpor daging sapi, yang harganya ternyata jauh lebih murah, hanya sekitar Rp60.000/kg, selisihnya jauh namun dengan kualitas yang sangat baik.

“Ini solusi terbaik yang kami ambil untuk menekan biaya produksi, karena untuk menaikkan harga jual bakso per porsi kepada masyarakat tidak mungkin, pembeli bisa lari,” tuturnya.

Dia mengatakan kebutuhan daging sapi untuk pembuatan bakso di seluruh Kota Semarang mencapai sekitar 5 ton per hari.

“Kami tidak mungkin memaksakan diri hanya menggunakan daging sapi lokal untuk produksi bakso, sehingga memilih dicampur dengan daging impor guna menekan biaya produksi sekaligus menjaga kualitas baksonya,” tutur Ketua Apmiso Jateng, Lasiman.

Dia mengatakan meskipun sudah mendapatkan daging impor dari Apmiso Pusat, namun kuota yang didapatkannnya sebenarnya masih sangat kurang. “Kuota yang didapatkan, untuk Kota Semarang saja, hanya 2,7 ton/minggu, sementara kebutuhannya sebesar 5 ton/hari,” tuturnya.

Menurutnya, hal itu disebabkan memang minimnya kuota impor yang didapatkan oleh Apmiso Pusat dari pemerintah hanya sekitar 500 ton/tahun. “Dari kuota sekian itu, sementara ini kami di Kota Semarang hanya mendapatkan 2,7 ton per pekan,’ tuturnya.

Dia mengatakan langkah menyiasati melonjaknya harga daging sapi lokal dengan mencampur daging impor itu memang baru dilakukan oleh Kota Semarang, daerah di Jateng lainnya belum. “Tapi segera menyusul daerah Grobogan, Solo, dan Purwodadi, setelah melihat kualitas daging impor ini ternyata bagus dan terdapat sertifikat Halal-nya,” ujarnya.

Namun demikian, lanjutnya pihaknya bersama sekitar 30.000 pedagang bakso lain yang tergabung dalam Apmiso Jateng, baik warungan maupun gerobak, berkomitmen akan menghentikan penggunaan daging impor apabila harga daging sapi lokal sudah kembali normal, atau Rp60.000-Rp65.000/kg. (k39/dot)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Puput Ady Sukarno

Editor : Reporter 1

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top