Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

ASURANSI PROPERTI: Kendala distribusi masih jadi momok

JAKARTA-Selain perang tarif premi, faktor penghambat pertumbuhan asuransi properti adalah putusnya jalur distribusi.Saat ini, lini asuransi properti masih mengandalkan jalur distribusi melalui korporasi, yakni bekerjasama dengan perbankan dan perusahaan
News Editor
News Editor - Bisnis.com 11 Desember 2012  |  18:20 WIB

JAKARTA-Selain perang tarif premi, faktor penghambat pertumbuhan asuransi properti adalah putusnya jalur distribusi.Saat ini, lini asuransi properti masih mengandalkan jalur distribusi melalui korporasi, yakni bekerjasama dengan perbankan dan perusahaan pembiayaan yang menyalurkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang mewajibkan asuransi bagi properti yang dibeli. Akan tetapi, sebagian besar nasabah berhenti membayar polis ketika telah menyelesaikan kewajiban dengan bank atau leasing.Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia Julian Noor mengatakan, perusahaan asuransi sulit menjangkau nasabah ritel pascakerjasama dengan penyedia layanan KPR."Ketika ikatan dengan KPR selesai, kebanyakan asuransi properti putus. Tidak ada data persentasenya, tapi lebih banyak yang putus daripada yang lanjut," ujarnya kepada Bisnis, akhir pekan lalu.Rendahnya peminat asuransi properti di jalur ritel ini menurut Julian terjadi karena minimnya informasi yang didapat calon konsumen."Lebih karea mereka tidak tahu harus membeli di mana. Padahal preminya kecil, sekitar 2 permil. Misal nilai pertanggungan rumah adalah Rp100 juta, preminya hanya sekitar Rp200 ribu pertahun. Mungkin bayangannya seperti kendaraan bermotor yang mematok premi cukup tinggi," terangnya.Meski demikian, lanjutnya, ada sekitar 15 perusahaan asuransi yang mulai merambah bisnis ritel di lini properti. Saat ini, perusahaan asuransi masih mengandalkan jalur distribusi melalui agensi untuk menjangkau nasabah ritel."Untuk menurunkan potensi hilangnya nasabah yang awalnya masuk dari jalur perbankan dan leasing, industri asuransi menggunakan agen," ujarnya.Pemasaran lewat jalur agen ini diakui Julian belum efektif karena biaya distribusi tidak seimbang dengan premi yang didapat. Sementara, jalur distribusi melalui bancassurance masih terkendala prinsip kerahasiaan bank.Perusahaan asuransi yang membidik sektor ritel umumnya mengalami kesulitan dalam distribusi produk."Ini persoalan. Harus ada mekanisme yang bisa menjangkau orang banyak tapi efisien, misalnya lewat komunitas atau media sosial, atau lewat voucher seperti voucher pulsa. Masing-masing perusahaan sedang mencari jalur terbaik, saat ini masih dalam wait and see," ujarnya.Catatan AAUI, hingga semester I/2012, pangsa pasar asuransi umum properti menempati posisi kedua dengan 27,4%, tertinggal di bawah asuransi kendaraan bermotor yang mencapai 30,1% dari pangsa pasar. Adapun posisi ketiga ditempati asuransi kecelakaan dan kesehatan sebesar 13,5%. (30/Bsi)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Farodlilah Muqoddam

Editor : Puput Jumantirawan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top