PERUBAHAN IKLIM: Komitmen Negara Maju Kurangi Emisi Kembali Dipertanyakan

JAKARTA: Komitmen negara maju dalam mengurangi emisi dalam mitigasi perubahan iklim kembali dipertanyakan.Rachmat Witoelar, Ketua Delegasi RI dalam Konfrensi Perubahan Iklim ke-18, menilai Konferensi Perubahan Iklim ke-18 berujung pada hasil yang kurang
Erly Rusiawati | 10 Desember 2012 21:04 WIB

JAKARTA: Komitmen negara maju dalam mengurangi emisi dalam mitigasi perubahan iklim kembali dipertanyakan.Rachmat Witoelar, Ketua Delegasi RI dalam Konfrensi Perubahan Iklim ke-18, menilai Konferensi Perubahan Iklim ke-18 berujung pada hasil yang kurang menguntungkan bagi Indonesia dan beberapa negara maju.Salah satu keputusan yang kurang menguntungkan adalah keenganan negara maju menyetujui usulan mid-term-financing. Dalam usulan tersebut pendanaan dimulai dengan penyediaan dana senilai US$60 miliar dalam jangka waktu tiga tahun sejak 2012."Negara maju hanya menyetujui keputusan yang sifatnya 'qualitative reassurance', yaitu pelaksanaan komitmen penyediaan pendanaan jangka panjang yang dibuat di Copenhagen, Denmark pada COP 15 tahun 2009," jelasnya dalam siaran pers yang diterima Bisnis, Senin (10/12/2012).Sebagai tambahan informasi, berdasarkan COP 15 negara maju berkomitmen menyediakan untuk memobilisasi dana US$100 miliar sampai tahun 2020 untuk menurangi emisi dan memitigasi perubahan iklim. Itupun dengan catatan negara berkembang melakukan aksi mitigasi dan melaporkannya secara transparan.Rachmat menyebut angka konkrit US$60 miliar sangat diperlukan agar negara berkembang memiliki kepastian pendanaan untuk meningkatkan kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim."Tanpa adanya keputusan mengenai angka tersebut, negara berkembang khawatir terjadi kesenjangan pendanaan setelah periode pendanaan jangka pendek (fast-start finance) untuk periode 2020-2012 senilai US$30 miliar berakhir tahun ini," ungkapnya.Keenganan negara maju menyetujui usulan usulan mid-term-financing disertai dengan keluarnya Kanada dan Amerika Serikat yang memutuskan keluar dari Protokol Kyoto. Sementara itu, Rusia, Jepang dan Selandia Baru memutuskan untuk tetap menjadi anggota Protokol Kyoto, tapi tidak berkomitmen menurunkan emisi."Indonesia meminta negara maju menunjukkan kepemimpinannya dalam upaya pengurangan emisi.  Amerika Serikat, Kanada, Jepang, Rusia dan Selandia Baru diharapkan dapat membuat komitmen yang berimbang di dalam jalur lain di bawah konvensi perubahan iklim PBB," imbuhnya.Adapun 37 negara maju dan negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa menyepakati pelaksanaan periode komitmen kedua selama 8 tahun terhitung sejak tanggal 1 Januari 2013. Negara-negara tersebut merepresentasikan kurang dari 20 persen emisi gas rumah kaca dunia. (bas)

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Aang Ananda Suherman

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup