Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

KRISIS EROPA: Bailout 500 Miliar Euro tak Mampu Sembuhkan Krisis

JAKARTA: Para menteri keuangan zona euro telah mengaktifkan dana penyelamatan Mekanisme Stabilitas Eropa (ESM) sebesar 500 miliar euro untuk menalangi negara pengguna euro yang bangkrut karena krisis utang Eropa.
Muhammad Fazrin
Muhammad Fazrin - Bisnis.com 19 Oktober 2012  |  11:32 WIB

JAKARTA: Para menteri keuangan zona euro telah mengaktifkan dana penyelamatan Mekanisme Stabilitas Eropa (ESM) sebesar 500 miliar euro untuk menalangi negara pengguna euro yang bangkrut karena krisis utang Eropa.

Mampukah dana bailout ini menyudahi krisis yang telah menginjak tahun ketiganya tersebut? Sebagaimana diketahui, sebelumnya Uni Eropa telah menyediakan dana Fasilitas Stabilitas Finansial Eropa (EFSF) sebesar 440 miliar euro dan krisis tetap memburuk.

Selain jumlahnya yang lebih besar dan wewenang yang lebih luas, ESM diunggulkan karena masa operasionalnya yang permanen dari EFSF yang temporer. Sampai EFSF khatam pada pertengahan tahun depan, kedua dana ini akan beroperasi bersamaan.

Namun, pengamat ekonomi di Indonsia meraragukan  dana talangan saja akan cukup memulihkan krisis utang sepenuhnya.

Hal itu karena suntikan uang itu hanya menyasar permasalahan sentimen dan sedikit menjawab permasalahan moneter. Padahal, inti permasalahan di Eropa saat ini adalah struktur fiskal yang tidak sehat dan gaya hidup masyarakat.

Pande Radja Silalahi, pengamat ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS), menilai masyarakat Eropa terbiasa dimanjakan pemerintahannya dengan berbagai tunjangan, seperti tunjangan kesehatan dan bahkan tunjangan pengangguran.

Menurutnya, hal ini membuat mereka tidak terbiasa mengorbankan apa yang telah mereka nikmati itu.

“Memang ada gambaran positif dari program ini, tapi masalahnya masyarakat Eropa masih resisten dengan persyaratan-persyaratan bailout karena tidak ada yang mau jadi Santa Claus,” lanjut Pande.

Menurutnya, keberhasilan dana ESM tergantung kepada kemampuan pemerintah negara yang membutuhkan dana bailout untuk membujuk rakyatnya agar hidup prihatin dengan menerima pengetatan anggaran yang disyaratkan dalam paket bantuan tersebut.

“Sayangnya, daya tahan penduduknya sangat rendah, tidak seperti orang Indonesia yang bisa hidup susah, bahkan kuat cuma makan nasi aking,” kata Pande.

Jika masyarakatnya ikhlas menerima pengetatan anggaran, tidak berunjuk rasa, dan tetap mempertahankan belanja, maka perekonomian Eropa akan tetap berjalan meski di tengah kesulitan. Namun, menurut Pande, itu tidak mungkin terjadi.

Maka, dia memprediksi nasib dana ESM akan sama EFSF, yang tidak berhasil memulihkan kondisi fiskal negara-negara penerima bailout. “Ada kemungkinan nasibnya seperti EFSF karena negara-negara penerima tidak siap,” ujarnya. (sut)

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Sutarno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top