Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

CATATAN RINGAN: Menyoal keadilan semu

Sebut saja Dinda (bukan nama sebenarnya), yang sehari-harinya merupakan penjual gado-gado di dekat rumah. Karena rasanya yang enak, gado-gado Dinda terkenal hingga ke seantero desa dan kampung lain, sehingga setiap hari pembeli rela mengantre demi menikmati
Lingga Sukatma Wiangga
Lingga Sukatma Wiangga - Bisnis.com 08 Mei 2012  |  01:39 WIB

Sebut saja Dinda (bukan nama sebenarnya), yang sehari-harinya merupakan penjual gado-gado di dekat rumah. Karena rasanya yang enak, gado-gado Dinda terkenal hingga ke seantero desa dan kampung lain, sehingga setiap hari pembeli rela mengantre demi menikmati sepincuk gado-gadonya.

 

Saya yang baru mengikuti acara mengenai hukum dan keadilan, mendadak terhenti di depan warung gado-gado Dinda. Sejenak saya berfikir, adilkah Dinda dalam membuat dan menyajikan gado-gado ke pembelinya?

 

Tentu saja tidak adil. Kenapa? Karena siapa yang bisa menjamin, Dinda menaburkan garam sama persis berat dan volumenya dengan gado-gado dari pembeli sebelumnya? Atau berat dan jumlah kacang yang sama dengan sebelumnya? Atau bahkan daun kangkung dengan helai dan berat yang sama? Tentu sama sekali TIDAK SAMA, padahal para pembeli membayar dengan harga yang sama.

 

Kalau begitu, adilkah Dinda? Keadilan di anggap Dinda bila semua pelanggan merasa puas atas gado-gadonya enak dan tak ada yang komplain ataupun mengkritik, apalagi unjuk rasa.

 

Demikian halnya dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, keadilan dianggap belum adil bila tidak semua masyarakt merasa nyaman dan puas dengan kebijakan yang dibuat pemerintah.

 

Tengok saja misalnya soal BBM atau bahan bakar minyak. Pemerintah akan dianggap adil bila semua pihak merasa happy, dan bukan hanya segelintir atau sebagian kalangan masyarakat saja, dan bukan hanya kalangan yang kekurangan atau miskin saja yang harus puas.

 

Keadilan juga tidak bisa hanya diukur dengan banyaknya jumlah yang kita terima, melainkan kecukupan dan kepuasan yang seharusnya jadi aspek utama. Keadilan bagi penumpang Transjakarta yang duduk belum tentu dianggap adil bagi wanita hamil yang berdiri.

 

Inilah susahnya jadi pemerintah, karena dengan penduduk ratusan juta jiwa, tentu juga ada ratusan juta isi kepala yang pasti akan berbeda-beda. Andai saja pemerintah bersikap adil seperti Dinda, dan masyarakat bisa menerima berapa pun yang diterimanya seperti pembeli gado-gado, maka tentu bangsa Indonesia makin bermartabat...([email protected])

 

 

+++ JANGAN LEWATKAN ARTIKEL BERIKUT:

Awas! FBI Sadap Facebook, GMail, YM dan Skype!

ROKOK Bukan Penyebab KANKER?

CHARLES SAERANG, Demi Perempuan

Jika Menteri Perindustrian MS HIDAYAT bicara Pekerja Seks Perempuan

Baca Koran BISNIS INDONESIA Hari Ini


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Lingga Sukatma Wiangga

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top